Dan malam ini Danny siap melaksanakan tugas dan membantu istrinya hingga para tamunya benar-benar mendapatkan kepuasan lahir batin. Pedro dan Tory datang. Seperti biasanya mereka datang hanya dengan celana dalam. Nampak tubuh-tubuh mereka yang sangat kokoh, berotot dan tentu saja indah. Lia serta merta menyambut mereka. Lia berada di tengah-tengah mereka, menggayut pinggang mereka dengan manja dan menuntunnya keranjang.
Kemudian bersama-sama mereka menjatuhkan diri ke ranjang, kedua begundal itu saling berganti berpagutan dengan Lia. Dan dengan penuh keterampilan, satu persatu Lia melepaskan cawat Pedro kemudian Tory. Kontol mereka langsung mengayun, tangan Lia cepat meraihnya, mengelus-elusnya dengan penuh kelembutan.
Di pihak lain, tangan-tangan Pedro dan Tory melepaskan pakaian Lia. Nampak celana dalamnya sengaja dibiarkan tidak dilepasnya. Mulai terdengar desahan. Bibir Lia merekah menahan haus saat matanya melihat kontol Pedro yang dielusnya. Pedro tahu. Diraihnya rambut panjang Lia, dan ditekannya kepalanya hingga bibirnya menyentuh ujung kontol besar itu. Dan tak pelak lagi, mulut Lia langsung melahap dan mengulum kontol Pedro.
'Hai, anjing! Sini!', terdengar Tory memanggil Danny yang selalu siap.
'Aku tadi buang air lupa belum cebok. Sini, cebokin aku pakai lidahmu', Danny yang telah ngaceng berat menyaksikan kontol besar dalam mulut istrinya sangat bergairah menerima tugas dari Tory.
Dengan mengangkat salah satu kakinya ke atas ranjang, terbukalah daerah anal Tory. Danny mendekat kemudian menenggelamkan wajahnya ke pantat Tory dan tak ayal lagi langsung menceboki dengan cara menjilati anal Tory hingga segalanya bersih. Dia lakukan pula hal itu pada Pedro atas permintaannya dengan alasan yang sama.
Pada kesempatan itu, disebabkan oleh dorongan birahi Danny yang meledak-ledak tak tertahankan lagi, sambil menjilat anal Pedro dan Tory, Danny beronani. Tangannya menekan-nekan, mengelus dan mengocok-ngocok kemaluannya hingga precumnya keluar.
Lia merasakan mendapatkan kesempatan yang sangat memuaskan dalam menyalurkan naluri libidonya. Dia dapat melaksanakan obsesinya secara hewaniah dalam melampiaskan dendam birahinya yang selama ini divonis sebagai dosa, tabu, menyimpang, selingkuh dan sebagainya.
Tory dan Pedro telah memberikan kesempatan seluas-luasnya baginya untuk menjangkau kepuasan seksualnya. Dalam hal ini seakan Pedro maupun Tory menempatkan dirinya sebagai fasilitator yang menjembatani khayalan-khayalan seksnya menjadi kenyataan. Bukan sekedar teori, tetapi juga sarana, kemampuan, kekuatan dan ketahanan Pedro maupun Tory yang sungguh tak terperikan.
Kontol-kontol Pedro dan Tory merupakan sarana utama yang mampu memenuhi harapan dan keinginan Lia untuk sungguh-sunguuh menjadi istri dambaan Danny itu. Setiap Lia menyaksikan kontol-kontol itu, dengan tanpa menunggu lagi, respon birahi Lia langsung mencuat. Mulut Lia selalu siap menjemput untuk mengulum kontol-kontol itu. Memek Lia yang ranum selalu menunggu untuk ditembusnya. Pinggul dan pantat Lia siap 'ngebor', agar Tory dan Pedro mendapatkan layanan kenikmatan dari Lia semaksimal mungkin.
Sementara itu bagi Pedro dan Tory, kehadiran Lia di villa indah di tengah hutan ini sungguh merupakan rejeki nomplok. Bidadari, dewi, sang jelita, peri yang cantik, perawan sundal, perempuan sintal, perempuan binal, pelacur para dewa, penjilat kontol dan berbagai sebutan lain yang melukiskan kehebatannya sebagai wanita yang sangat pantas menjadi lambang kepuasan lelaki macam Pedro dan Tory.
Melihat Lia, menyaksikan buah dadanya yang selalu ranum, menyaksikan kemaluannya yang indah membukit, menyaksikan lembah-lembah pinggulnya, perutnya, ketiaknya, rasanya kontol mereka kurang lagi memadai. Mereka membayangkan, mengapa lelaki hanya memiliki satu kontol saja. Mereka bayangkan seandainya mereka memilik banyak kontol dan pada saat yang bersamaan kontol-kontol mereka itu dapat merambah sekaligus di wilayah-wilayah nikmat di tubuh bidadari dan dewi jelitanya, si Lia istri Danny itu.
Bagi Danny lain lagi. Pada peristiwa bulan madunya ini dia baru memahami bahwa kenikmatan seksual itu punya banyak aspek. Dia sungguh merasa menemukan nilai-nilai baru dalam kenikmatan seksual itu. Dia merasakan betapa nikmatnya menyaksikan istrinya merintih, mengerang serta mendesah bersamaan dengan saat kenikmatan melandanya ketika kontol-kontol Pedro dan Tory menembus memeknya. Dia juga merasakan kenikmatan yang hebat saat melihat mulut Lia penuh terisi oleh kepala kontol-kontol besar milik para begundal itu. Dia merasakan sangat nikmatnya menjilati sperma Tory dan Pedro yang muncrat dan ditinggalkan memenuhi rongga vagina Lia istrinya. Dia jilati hingga vagina Lia bersih tandas. Dia merasakan bukan main nikmatnya saat Tory memangilnya sebagai 'anjingnya' untuk menjilati kotoran di pantatnya yang disebabkan lupa cebok setelah buang air tadi. Dan nikmat yang sama juga dia dapatkan dari Pedro.
Dan sekarang Danny dengan penuh gairah berada di tengah kamar ini, dimana istrinya dengan penuh obsesi melayani nafsu bejat para begundal itu. Danny menunggu kenikmatan-kenikmatan berikutnya yang pasti akan datang dan diberikan oleh Pedro dan Tory.
'Hai kamu, budak! Sini, jilatin kontolku, lumasin dengan lidah kamu, biar mudah menembus memek istrimu nanti', panggil Pedro sambil menyodorkan kontolnya ke mulut Danny.
Dan dengan kepatuhan mutlak sebagai budaknya, dia laksanakan perintah Pedro. Rupanya Pedro keenakan merasakan jilatan Danny, sehingga dia perintahkan untuk mengulum-ngulumnya, dia mau spermanya muncrat ke dalam mulut Danny. Dia ingin melihat Danny yang penuh kehausan itu meminum spermanya.
Melihat Pedro menyeringai kenikmatan dengan muncratnya spermanya ke mulut Danny, Tory juga memanggil Danny untuk melakukan hal yang sama pada kontolnya yang hebat itu. Dan sekali lagi, Danny melaksanakan tugas itu sambil mengocok-ngocok kontolnya. Saat sperma Tory muncrat ke mulutnya dan dia mengenyam-ngenyamnya sebentar untuk merasakan betapa nikmatnya sperma itu sebelum meminumnya, kontol Danny juga berbarengan muntah. Spermanya mengotori lantai kamar pengantinnya.
Lia yang menyaksikan adegan-adegan itu langsung terdongkrak birahinya. Pedro ditariknya hingga telentang di ranjang. Memeknya diarahkannya untuk mencaplok kontol Pedro yang tak kunjung lemas itu, yang selalu tegak ngaceng dengan jamurnya yang besar tumpul dan mengilat-kilat itu. Kemudian ditekannya ke lubang vaginanya. Dan.., bless.., vaginanya secara lahap menelan kontol Pedro yang 20 cm itu. Dan seolah-olah menaiki kuda sembrani, Lia menggenjot habis-habisn memeknya ke kontol besar itu.
Sebelum Pedro kembali memuncratkan air maninya ke liang vaginanya, Lia telah berhasil meraih multi orgasmenya. 3 kali berturut-turut kemaluan Lia memuncratkan cairan birahinya. Nampaklah kontol Pedro yang diam tegak bak tugu Monas itu telah basah kuyup oleh cairan Lia yang muncrat-muncrat terpompa keluar. Teringat akan tugasnya, dan melihat cairan-cairan Lia muncrat-muncrat di batang kontol Pedro, Danny dengan sigap merebahkan dirinya ke atas kasur tepat di selangkangan Pedro. Mulutnya dan lidahnya dengan segera menjilati dan menyedot lelehan cairan pada batang tegar Pedro itu.
Demikianlah suasana dan kesibukan di kamar pengantin pasangan Danny dan Lia sepanjang malam itu. Danny dan Lia sepenuhnya sibuk melayani nafsu bejat para begundal tersebut. Dan Tory serta Pedro sangat menikmati dan puas dengan selang-seling pelayanan istimewa dari budak dan anjingnya. Saat jam di dinding menunjukkan pukul 4 dini hari, jauh sebelum matahari terbit di ufuk timur, Pedro, Tory, Danny dan Lia yang ternyata sama-sama tak kenal lelah, memasuki episode yang paling mendebarkan.
setelah Lia dientot Pedro dan Tory dengan cara nungging seperti anjing betina melayani para pejantan, Danny diperintahkan untuk menjilati dubur istrinya. Berkali-kali kepala Danny dijambak oleh kedua begundal itu untuk terus menjilati dubur Lia hingga benar-benar basah. setelah itu mulut Danny dijejali kontol-kontol besar mereka hingga kontol-kontol itu lumat dengan ludahnya. Ketika merasa telah cukup memadai, Tory meraih rambut panjang Lia yang tetap berposisi seperti anjing betina yang menunggu dientot para pejantan. Dihelanya rambut Lia seperi menghela kuda tunggang. Kontol besarnya dengan pasti diarahkan ke dubur Lia yang telah kuyup, basah oleh ludah Danny. Kontol yang tegak kaku itu ditusukkannya ke lubang dubur Lia. Tak ayal lagi, teriakan pilu karena rasa sakit bercampur nikmat yang sangat keluar lepas dari mulut Lia. Teriakan itu begitu panjang, seakan anjing betina yang menggonggong di malam bulan purnama ini.
Dan tanpa mengenal ampun, lubang dubur Lia ditembus kontol besar panjang Tory. Semangat memompa kontol Tory, membuat lubang dubur Lia seakan dirobek-robeknya. Rasa pedih, perih yang disertai rasa panas membara sepertinya batangan besi panas yang membuat sensasi rasa terbakarnya lubang dubur Lia membuat Lia kehilangan kesadaran. Lia pingsan. Tetapi itu semua tidak membuat Tory menghentikan serangannya. Genjotan kontolnya justru semakin memburu. Nafsu kebinatangannya semakin memburu. Birahinya yang meledak dan melanda kontolnya semakin memburu. Genjotan pompa Tory tak lagi terhentikan. Juga tangannya yang terus memegangi rambut Lia tak kunjung dilepaskannya. Dan itu yang membuat tubuh Lia tidak roboh walaupun dalam keadaan pingsan.
Dan hingga, 'AARRGGHH..', berbarengan dengan terdengarnya longlongan serigala di malam purnama ini.
Kontol Tory kembali memuncrat-muncratkan bertetes-tetes spermanya, dan baru kali inilah nampak Tory roboh bersamaan dengan robohnya tubuh Lia yang masih pingsan.
Danny, si anjing yang setia, budak yang selalu patuh, pelayan yang tahu apa yang harus dikerjakannya. Dia beringsut mendekati kontol Tory yang nampak masih setengah tegak di selangkangannya yang terbuka. Danny dengan setia menjilati kontol yang masih basah itu. Lidahnya dengan telaten menjilati celah-celah, tonjolan, lipatan dan lubang kencing Tory yang tampak semakin indah di mata Danny itu. Setelah itu, perhatian Danny beralih ke lubang dubur istrinya. Sperma yang meleleh dari lubang itu warnanya agak berbeda, tidak hanya putih bening, ada semburat kuning hijau yang membaur. Sperma itu pasti telah bercampur dengan apa yang ada di dalam dubur Lia. Dan Danny benar, saat lidahnya mulai menjilat untuk menyedotinya, hidungnya diterpa bau yang khas, bau anal dan kotoran Lia. Tetapi justru hal itu membuat Danny semakin horny dan bergairah.
Terdengar rintihan halus Lia, rupanya Lia mulai sadar dari pingsannya. Dia sedikit menggeliat, rintihannya semakin jelas. Danny tanpa merasa terganggu tetap meneruskan tugasnya. Tiba-tiba dirasakannya ada yang menarik dan menjambak rambutnya. Pedro.. Danny ditariknya dan dilemparkannya hingga terjengkang di lantai. Seperti halnya Tory, Pedro meraih tubuh Lia hingga berposisi tengkurap. Kemudian dengan tangannya yang kokoh diangkatnya pinggul Lia sehingga posisi Lia kembali menungging. Sementara Lia yang baru akan sadar sepenuhnya, kembali merintih dan mengerang. Dan sebagaimana halnya Tory juga, Pedro sama sekali tidak mengacuhkan keadaan Lia. Lubang dubur yang baru saja dibersihkan dari sperma yang bercampur dengan kotoran Lia oleh lidah dan bibir Danny, kembali digasaknya.
Bersambung . . . .
Friday, 30 December 2011
14:38
14:38
Misteri Villa forest garden - 6
Kembali Lia mengaduh dan merintih merasakan pedih dan rasa panas yang sangat tak terperikan pada lubang duburnya. Kontol Pedro yang terus mengocok-ngocok lubang itu sama sekali tak mengendorkan serangannya barang sedikit pun. Semakin keras rintihan yang kemudian disusul tangisan dari mulut Lia, semakin beringas pula Pedro menusukkan kontolnya ke dubur Lia. Hingga akhirnya Lia kembali pingsan. Dan itu justru membuat Pedro menggila. Dia meracau, mengumpat, mencaci. Semua kata-kata kotor bertebaran dalam ruang kamar pengantin yang sempit itu.
Sementara itu Tory telah siuman, dan Danny melihat Tory mendekatinya. Tanpa ba-bi-bu, Tory menerkam Danny. Ditelentangkannya Danny ke lantai. Rupanya Tory nafsunya bangkit kembali saat menyaksikan Pedro ngentot pantat Lia. Dan bagi Tory sama saja. Dia tidak akan sabar menunggu Pedro. Ditindihnya tubuh Danny, selangkangannya dipaksanya terbuka. Kemudian kaki-kaki Danny diangkat ke pundaknya. Kontol yang kaku besar panjang ngaceng itu tanpa menunggu pelumasan langsung ditembakkan ke anal Danny.
Saat itu Danny agak sadar, bahwa sebagai lelaki dia belum pernah dientot sesama lelaki. Tetapi Tory ini adalah tuannya, dan Danny adalah anjing setianya. Dia akan melayani Tory sebaik-baiknya. Direngkuhnya tubuh berotot Tory, dipeluknya. Dan saat Tory mendaratkan bibir tebal untuk melumat bibirnya, dia menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Kegembiraan seekor anjing yang dapat memuaskan tuannya.
Tetapi, saat kontol besar panjang milik Tory itu benar-benar menusuk dengan tajam ke lubang pantatnya, sebagaimana yang dirasakan oleh Lia, seakan ada besi membara yang menghunjam pada analnya. Sakit, pedih, perih dan panasnya yang luar biasa. Kesakitan yang amat sangat yang menimpa Danny membuat pandangannya kabur, kabur, kabur.., kemudian gelap.., menyusul Lia istrinya, Danny ikut pingsan..
Pukul 7, pagi harinya..
Danny menggeliat. Panas matahari pagi yang menembus jendela kamar Villa Forest Garden jatuh ke wajahnya sehingga membuatnya tersadar. Samar-samar terlintas dalam ingatannya saat-saat yang sangat menyakitkan tadi malam, dengan perasaan yang penuh putus asa dan hati yang sangat kecut Danny membuka matanya pelan. Dimana Tory dan Pedro? Pantatnya masih terasa pedih karena tusukkan kontol Tory semalam.
Dilihatnya sekeliling kamar dengan ekor matanya, dan.. Dengan cepat serta penuh keterkejutan, serta merta Danny bangun dengan masih berbugil. Ini bukan kamar yang tadi malam, kamar ini adalah kamar yang diberikan oleh Tory penjaga villa untuk pasangan Danny dan Lia. Lukisan di dinding, lampu meja, gordyn, meja dan kursi rias itu. Dan pintu kamar itu.., sudah utuh kembali.. Pintu yang tadi malam hancur roboh diterjang para begundal itu..?
Lantas kamar yang tadi malam itu di mana? Apakah Tory dan Pedro memindahkan mereka kembali ke kamar ini?
Nampak Lia masih tidur disampingnya, yang kemudian juga menggeliat bangun disebabkan sinar matahari yang juga jatuh ke wajahnya.
'Lia ..', Danny memanggilnya pelan
Lia langsung membuka mata dan dengan gelagapan cepat bangkit duduk pula. Seperti halnya Danny, matanya juga menyapu interior kamar itu.
'Mas, kita dimana? Mana Tory dan Pedro ..?'.
Tapi Danny tidak langsung menjawab. Disingkapnya selimut istrinya. Masih sama-sama bugil. Di bukanya paha, selangkangan, dilihatnya mendekat, ada bercak darah mengering di pahanya. Itu pasti darah keperawanan Lia, tapi aku khan belum jadi bersanggama dengan kamu? Jadi..? Danny sepertinya protes. Atau kita hanya mimpi..? Mungkinkah ada mimpi kembar? Dua orang dalam mimpi yang sama? Mengalami kejadian yang sama? Dan akhirnya merasakan kepedihan yang sama pula? Tapi..
'Ssstt ..', dengan berjingkat Danny mengajak bangun.
Pertama-tama diintipnya keluar jendela. Aahh.., alangkah damainya. Pemandangan di luar jendela yang sangat asri dan segar. Nampak danau kecil di kejauhan yang ditimpa sinar matahari pagi, kabutnya belum sepenuhnya hilang dan kijang-kijang yang merumput. Indahnya alam ini.
Kemudian mereka menuju ke pintu. Masih terkunci tepat sebagaimana saat dia menguncinya tadi malam sebelum naik ke ranjang. Danny memutar kunci, klek.., dan memutar handlenya. Pintu terbuka. Dengan menuntun tangan Lia pelan-pelan, Danny melangkah keluar kamar, terus keluar, menuju beranda, tak ada meja besar, tak ada tiang obor itu, tak ada..
'Selamat pagi, Pak', sambut seorang lelaki tua, agak renta, disampingnya tampak lelaki yang agak muda, rasanya mereka bersaudara, mungkin bapak dengan anaknya.
'Pagii Pak, apa kabar?', Danny dan Lia berbareng menyahut.
'Bapak mau minum apa? Eeehh, maaf Pak. Saya baru bisa menghadap Bapak sekarang. Saya dan anak saya ini baru mudik dari desa seberang, maklum ada tetangga yang menikah, tidak enak kalau tidak datang..', Pak tua itu minta maaf pada pasangan Danny dan Lia.
'Ooohh yaa? Bapak ini siapa..?', tanya Danny dengan penuh curiga..
'Saya pelayan Pak Sumitra, Pak. Nama saya Tory. Dan ini anak saya Pedro yang menemani saya menjaga kebun Pak Sumitra ini..'.
Danny dan Lia tercekat. Tangan Lia yang langsung berkeringat dingin meremas tangan Danny.
'Ohh.., lantas yang tt..', Danny tidak menyelesaikan pertanyaannya karena keburu tangan Lia meremasnya agar tidak berbicara lebih jauh..
Suasana menjadi misterius. Tiba-tiba terdengar telepon berdering di kamar tidur mereka.
'Sebentar Pak..', Danny buru-buru beringsut sambil menarik tangan istrinya kembali ke kamar tidur.
Terdengar di ujung telepon, 'Hallo Danny, Lia, selamat bulan madu yaa..', itu suara Sumitra rekan Danny.
Lama Danny tidak menyahut, hingga, 'Hallo, ini Danny ya.., atau Lia..?'
'Yaa, yaa.. ini Danny.. apa kabar Pak Mitra?',
'Baikk, gimanaa.. enak tidur semalamm..?',
'Yaa.. enak Pakk.. terima kasih yaa..', Danny tidak ingin menceritakan peristiwa yang dialaminya.
'OK, baiklah, aku tidak akan mengganggu anda semua lho. Cuma cek dan ricek saja. Kalau perlu apa-apa suruh saja Pak Tory atau Pedro, mereka baik koq. Mereka sudah saya suruh untuk melayani sebaik-baiknya anda berdua. Jangan khawatir. O yaa, kalau ada perlu apa-apa telepon aku saja, nanti kubantu. Selamat Honey Moon.., byee..'.
Danny dan Lia langsung terduduk lemas. Lantas siapa yang mengaku Tory dan Pedro tadi malam? Dimana bunga sedap malam itu?
'Itu bukan mimpiku sendiri khan, Ma? Mama juga mimpi yang sama khan? Mama masih ingat saat pintu itu didobrak para begundal hingga hancur khan Ma? Mama lihat sendiri khan bagaimana ulah para begundal brutal itu?'
Pertanyan yang sama persis antara Danny dan Lia yang semua jawabannya semakin membuat misteriusnya apa yang dialami oleh Danny dan Lia semalam.
Dengan penasaran Danny menengok kamar sebelah. Terkunci. Dia perhatikan handlenya, diraihnya. Lho berdebu sekali, bukankah semalam Pedro membuka dan menutup pintu ini, yang tentunya meraih handle pintu ini..? Dengan alasan kagum dengan villa indah itu, Danny minta agar dibukakan pintu kamar itu pada Pak Tory. Agak lama Danny menunggu Pak Tory mengambil kunci.
'Maaf pak, kuncinya terselip di loteng, jadi saya cari dulu. Soalnya kamar ini sudah lama tidak pernah dibuka'.
Di kamar itu Danny melihat barang-barang tua, antik, yang ditumpuk begitu saja. Ada alat masak jaman Belanda, sendok garpu jaman Belanda, ada tangkai obor untuk para ambtenaar kalau bikin pesta kebun. Dan itu.., gramaphone di atas lemari tua.., Danny menggigil.
'Ini barang peninggalan pemilik lama Pak, orang Belanda, suami istri, kemudian diusir pulang ke negerinya karena ketahuan memperkosa pelayan lelakinya, aneh ya pak, sudah lama sekali, mungkin ada 70 tahun yang lalu, masih jaman Kompeni kata orang..', ujar Pak Tory.
Danny terkesiap mendengar cerita Pak Tory dan saat melihat barang-barang itu. Bukankah barang-barang ini yang tadi malam dipakai Tory untuk alat-alat makan malam? Dia tidak berani bertanya lebih jauh. Dia dapat mengira-ngira sendiri kurang lebih apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu.
Kemudian dia merapat ke dinding yang memisahkan kamar itu dengan kamar pengantin yang ditempatinya. Sekali lagi, Danny sungguh terkejut.., dilihatnya kotak yang dia gunakan sebagai tempat berdirinya semalam. Dan.. lubang itu.. tepat masih ada di situ.. Dan pada dinding itu.. Danny melihat ada cairan yang telah mengering.. Itu adalah spermanya yang muncrat tadi malam menyusul sesaat setelah Tory melepas spermanya juga.. Bulu kuduk Danny langsung berdiri..
Dan oleh karena ketakutannya yang amat sangat, dengan tanpa menunggu lebih lama lagi, Danny dan Lia memilih berbenah untuk pulang. Meninggalkan villa misterius itu. Setelah memberikan beberapa lembar ratusan ribu rupiah kepada Pak Tory dan Pedro, dengan alasan ada panggilan dari Jakarta, tanpa sempat meminum minuman yang disuguhkan oleh Pak Tory, Danny dan Lia segera meluncur membawa mobilnya, lari dari villa itu, pulang.
Sepanjang perjalanan mereka tidak banyak bicara. Masing-masing sepertinya telah terkena serangan trauma yang sangat hebat. Sangat menakutkan. Mereka berkesimpulan hutan tropis itu sangat angker. Apakah Pak Sumitra tidak tahu? Ataukah dia tidak percaya akan hal-hal seperti itu, sehingga dia tidak pernah memberi tahu padanya? Dan karena khawatir akan menimbulkan akibat yang tidak mengenakkan bagi kehidupan mereka berdua, Danny dan Lia sepakat untuk mengubur saja pengalaman yang mereka alami di villa itu. Mereka sepakat untuk tidak menceritakannya pada orang lain.
Dan pada akhirnya..
Tak ada hal yang berubah dalam pandangan umum pada kehidupan Danny dan Lia. Bagi orang lain di sekitar Danny dan Lia, keluarga di rumah, teman-teman kantor dan para relasi segalanya berjalan sebagaimana sebelumnya. Danny dan Lia secara teratur tetap rajin mengunjungi sanak saudaranya atau teman-temannya. Juga tidak pernah absen dari berbagai acara-acara keluarga maupun pertemuan-pertemuan antar teman sejawat.
Tetapi sebenarnya di luar pengetahuan orang lain, Danny dan Lia bukanlah Danny dan Lia yang pernah mereka kenal sebelum peristiwa bulan madu itu. Kini mereka menjadi pasangan yang paling terbuka dan dapat mengungkapkan masing-masing keinginannya dari lubuk hatinya yang paling dalam. Dan sekaligus dapat memenuhi harapan para undangan dalam pesta perkawinan mereka yang lalu, 'Semoga Danny dan Lia merupakan pasangan yang saling mendukung, membantu dan mengisi kekurangan yang satu terhadap yang lain'.
Pada suatu hari, sesaat setelah mereka berhubungan badan sebagaimana layaknya kehidupan suami istri.
'Mass.. aku rasanya koq ingin yang besaarr sekali.. bisa nggak, Mmaass..?',
'Oh yaa..? YANG HITAM yaa..? Aa.. aa.. aku ss.. setuju sekalii.., aku cc.. cariin yaa..?! Nanti aku yang NGELAYANIN yaa..?'.
Mata Lia nampak berbinar..
Jakarta, April 2003
Tamat
Sementara itu Tory telah siuman, dan Danny melihat Tory mendekatinya. Tanpa ba-bi-bu, Tory menerkam Danny. Ditelentangkannya Danny ke lantai. Rupanya Tory nafsunya bangkit kembali saat menyaksikan Pedro ngentot pantat Lia. Dan bagi Tory sama saja. Dia tidak akan sabar menunggu Pedro. Ditindihnya tubuh Danny, selangkangannya dipaksanya terbuka. Kemudian kaki-kaki Danny diangkat ke pundaknya. Kontol yang kaku besar panjang ngaceng itu tanpa menunggu pelumasan langsung ditembakkan ke anal Danny.
Saat itu Danny agak sadar, bahwa sebagai lelaki dia belum pernah dientot sesama lelaki. Tetapi Tory ini adalah tuannya, dan Danny adalah anjing setianya. Dia akan melayani Tory sebaik-baiknya. Direngkuhnya tubuh berotot Tory, dipeluknya. Dan saat Tory mendaratkan bibir tebal untuk melumat bibirnya, dia menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Kegembiraan seekor anjing yang dapat memuaskan tuannya.
Tetapi, saat kontol besar panjang milik Tory itu benar-benar menusuk dengan tajam ke lubang pantatnya, sebagaimana yang dirasakan oleh Lia, seakan ada besi membara yang menghunjam pada analnya. Sakit, pedih, perih dan panasnya yang luar biasa. Kesakitan yang amat sangat yang menimpa Danny membuat pandangannya kabur, kabur, kabur.., kemudian gelap.., menyusul Lia istrinya, Danny ikut pingsan..
Pukul 7, pagi harinya..
Danny menggeliat. Panas matahari pagi yang menembus jendela kamar Villa Forest Garden jatuh ke wajahnya sehingga membuatnya tersadar. Samar-samar terlintas dalam ingatannya saat-saat yang sangat menyakitkan tadi malam, dengan perasaan yang penuh putus asa dan hati yang sangat kecut Danny membuka matanya pelan. Dimana Tory dan Pedro? Pantatnya masih terasa pedih karena tusukkan kontol Tory semalam.
Dilihatnya sekeliling kamar dengan ekor matanya, dan.. Dengan cepat serta penuh keterkejutan, serta merta Danny bangun dengan masih berbugil. Ini bukan kamar yang tadi malam, kamar ini adalah kamar yang diberikan oleh Tory penjaga villa untuk pasangan Danny dan Lia. Lukisan di dinding, lampu meja, gordyn, meja dan kursi rias itu. Dan pintu kamar itu.., sudah utuh kembali.. Pintu yang tadi malam hancur roboh diterjang para begundal itu..?
Lantas kamar yang tadi malam itu di mana? Apakah Tory dan Pedro memindahkan mereka kembali ke kamar ini?
Nampak Lia masih tidur disampingnya, yang kemudian juga menggeliat bangun disebabkan sinar matahari yang juga jatuh ke wajahnya.
'Lia ..', Danny memanggilnya pelan
Lia langsung membuka mata dan dengan gelagapan cepat bangkit duduk pula. Seperti halnya Danny, matanya juga menyapu interior kamar itu.
'Mas, kita dimana? Mana Tory dan Pedro ..?'.
Tapi Danny tidak langsung menjawab. Disingkapnya selimut istrinya. Masih sama-sama bugil. Di bukanya paha, selangkangan, dilihatnya mendekat, ada bercak darah mengering di pahanya. Itu pasti darah keperawanan Lia, tapi aku khan belum jadi bersanggama dengan kamu? Jadi..? Danny sepertinya protes. Atau kita hanya mimpi..? Mungkinkah ada mimpi kembar? Dua orang dalam mimpi yang sama? Mengalami kejadian yang sama? Dan akhirnya merasakan kepedihan yang sama pula? Tapi..
'Ssstt ..', dengan berjingkat Danny mengajak bangun.
Pertama-tama diintipnya keluar jendela. Aahh.., alangkah damainya. Pemandangan di luar jendela yang sangat asri dan segar. Nampak danau kecil di kejauhan yang ditimpa sinar matahari pagi, kabutnya belum sepenuhnya hilang dan kijang-kijang yang merumput. Indahnya alam ini.
Kemudian mereka menuju ke pintu. Masih terkunci tepat sebagaimana saat dia menguncinya tadi malam sebelum naik ke ranjang. Danny memutar kunci, klek.., dan memutar handlenya. Pintu terbuka. Dengan menuntun tangan Lia pelan-pelan, Danny melangkah keluar kamar, terus keluar, menuju beranda, tak ada meja besar, tak ada tiang obor itu, tak ada..
'Selamat pagi, Pak', sambut seorang lelaki tua, agak renta, disampingnya tampak lelaki yang agak muda, rasanya mereka bersaudara, mungkin bapak dengan anaknya.
'Pagii Pak, apa kabar?', Danny dan Lia berbareng menyahut.
'Bapak mau minum apa? Eeehh, maaf Pak. Saya baru bisa menghadap Bapak sekarang. Saya dan anak saya ini baru mudik dari desa seberang, maklum ada tetangga yang menikah, tidak enak kalau tidak datang..', Pak tua itu minta maaf pada pasangan Danny dan Lia.
'Ooohh yaa? Bapak ini siapa..?', tanya Danny dengan penuh curiga..
'Saya pelayan Pak Sumitra, Pak. Nama saya Tory. Dan ini anak saya Pedro yang menemani saya menjaga kebun Pak Sumitra ini..'.
Danny dan Lia tercekat. Tangan Lia yang langsung berkeringat dingin meremas tangan Danny.
'Ohh.., lantas yang tt..', Danny tidak menyelesaikan pertanyaannya karena keburu tangan Lia meremasnya agar tidak berbicara lebih jauh..
Suasana menjadi misterius. Tiba-tiba terdengar telepon berdering di kamar tidur mereka.
'Sebentar Pak..', Danny buru-buru beringsut sambil menarik tangan istrinya kembali ke kamar tidur.
Terdengar di ujung telepon, 'Hallo Danny, Lia, selamat bulan madu yaa..', itu suara Sumitra rekan Danny.
Lama Danny tidak menyahut, hingga, 'Hallo, ini Danny ya.., atau Lia..?'
'Yaa, yaa.. ini Danny.. apa kabar Pak Mitra?',
'Baikk, gimanaa.. enak tidur semalamm..?',
'Yaa.. enak Pakk.. terima kasih yaa..', Danny tidak ingin menceritakan peristiwa yang dialaminya.
'OK, baiklah, aku tidak akan mengganggu anda semua lho. Cuma cek dan ricek saja. Kalau perlu apa-apa suruh saja Pak Tory atau Pedro, mereka baik koq. Mereka sudah saya suruh untuk melayani sebaik-baiknya anda berdua. Jangan khawatir. O yaa, kalau ada perlu apa-apa telepon aku saja, nanti kubantu. Selamat Honey Moon.., byee..'.
Danny dan Lia langsung terduduk lemas. Lantas siapa yang mengaku Tory dan Pedro tadi malam? Dimana bunga sedap malam itu?
'Itu bukan mimpiku sendiri khan, Ma? Mama juga mimpi yang sama khan? Mama masih ingat saat pintu itu didobrak para begundal hingga hancur khan Ma? Mama lihat sendiri khan bagaimana ulah para begundal brutal itu?'
Pertanyan yang sama persis antara Danny dan Lia yang semua jawabannya semakin membuat misteriusnya apa yang dialami oleh Danny dan Lia semalam.
Dengan penasaran Danny menengok kamar sebelah. Terkunci. Dia perhatikan handlenya, diraihnya. Lho berdebu sekali, bukankah semalam Pedro membuka dan menutup pintu ini, yang tentunya meraih handle pintu ini..? Dengan alasan kagum dengan villa indah itu, Danny minta agar dibukakan pintu kamar itu pada Pak Tory. Agak lama Danny menunggu Pak Tory mengambil kunci.
'Maaf pak, kuncinya terselip di loteng, jadi saya cari dulu. Soalnya kamar ini sudah lama tidak pernah dibuka'.
Di kamar itu Danny melihat barang-barang tua, antik, yang ditumpuk begitu saja. Ada alat masak jaman Belanda, sendok garpu jaman Belanda, ada tangkai obor untuk para ambtenaar kalau bikin pesta kebun. Dan itu.., gramaphone di atas lemari tua.., Danny menggigil.
'Ini barang peninggalan pemilik lama Pak, orang Belanda, suami istri, kemudian diusir pulang ke negerinya karena ketahuan memperkosa pelayan lelakinya, aneh ya pak, sudah lama sekali, mungkin ada 70 tahun yang lalu, masih jaman Kompeni kata orang..', ujar Pak Tory.
Danny terkesiap mendengar cerita Pak Tory dan saat melihat barang-barang itu. Bukankah barang-barang ini yang tadi malam dipakai Tory untuk alat-alat makan malam? Dia tidak berani bertanya lebih jauh. Dia dapat mengira-ngira sendiri kurang lebih apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu.
Kemudian dia merapat ke dinding yang memisahkan kamar itu dengan kamar pengantin yang ditempatinya. Sekali lagi, Danny sungguh terkejut.., dilihatnya kotak yang dia gunakan sebagai tempat berdirinya semalam. Dan.. lubang itu.. tepat masih ada di situ.. Dan pada dinding itu.. Danny melihat ada cairan yang telah mengering.. Itu adalah spermanya yang muncrat tadi malam menyusul sesaat setelah Tory melepas spermanya juga.. Bulu kuduk Danny langsung berdiri..
Dan oleh karena ketakutannya yang amat sangat, dengan tanpa menunggu lebih lama lagi, Danny dan Lia memilih berbenah untuk pulang. Meninggalkan villa misterius itu. Setelah memberikan beberapa lembar ratusan ribu rupiah kepada Pak Tory dan Pedro, dengan alasan ada panggilan dari Jakarta, tanpa sempat meminum minuman yang disuguhkan oleh Pak Tory, Danny dan Lia segera meluncur membawa mobilnya, lari dari villa itu, pulang.
Sepanjang perjalanan mereka tidak banyak bicara. Masing-masing sepertinya telah terkena serangan trauma yang sangat hebat. Sangat menakutkan. Mereka berkesimpulan hutan tropis itu sangat angker. Apakah Pak Sumitra tidak tahu? Ataukah dia tidak percaya akan hal-hal seperti itu, sehingga dia tidak pernah memberi tahu padanya? Dan karena khawatir akan menimbulkan akibat yang tidak mengenakkan bagi kehidupan mereka berdua, Danny dan Lia sepakat untuk mengubur saja pengalaman yang mereka alami di villa itu. Mereka sepakat untuk tidak menceritakannya pada orang lain.
Dan pada akhirnya..
Tak ada hal yang berubah dalam pandangan umum pada kehidupan Danny dan Lia. Bagi orang lain di sekitar Danny dan Lia, keluarga di rumah, teman-teman kantor dan para relasi segalanya berjalan sebagaimana sebelumnya. Danny dan Lia secara teratur tetap rajin mengunjungi sanak saudaranya atau teman-temannya. Juga tidak pernah absen dari berbagai acara-acara keluarga maupun pertemuan-pertemuan antar teman sejawat.
Tetapi sebenarnya di luar pengetahuan orang lain, Danny dan Lia bukanlah Danny dan Lia yang pernah mereka kenal sebelum peristiwa bulan madu itu. Kini mereka menjadi pasangan yang paling terbuka dan dapat mengungkapkan masing-masing keinginannya dari lubuk hatinya yang paling dalam. Dan sekaligus dapat memenuhi harapan para undangan dalam pesta perkawinan mereka yang lalu, 'Semoga Danny dan Lia merupakan pasangan yang saling mendukung, membantu dan mengisi kekurangan yang satu terhadap yang lain'.
Pada suatu hari, sesaat setelah mereka berhubungan badan sebagaimana layaknya kehidupan suami istri.
'Mass.. aku rasanya koq ingin yang besaarr sekali.. bisa nggak, Mmaass..?',
'Oh yaa..? YANG HITAM yaa..? Aa.. aa.. aku ss.. setuju sekalii.., aku cc.. cariin yaa..?! Nanti aku yang NGELAYANIN yaa..?'.
Mata Lia nampak berbinar..
Jakarta, April 2003
Tamat
Sunday, 25 December 2011
03:59
Budak pemuasku - 1
Saya adalah seorang wanita, single dan telah 8 tahun bekerja di sebuah perusahaan multi national yang terkenal, mungkin para pembaca mengetahui sebagai pekerja apalagi di sebuah perusahaan yang besar, karir kita tidak akan pernah mencapai posisi puncak, tentunya posisi ini biasanya diisi oleh seorang Expat yang ditunjuk langsung oleh headquarters yang bertempat di luar negeri.
Selama 8 tahun saya terus berambisi dan bekerja keras untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi lagi, dimana bukan hanya imbalan materi dan fasilitas yang lebih baik, tetapi juga untuk mendapatkan kekuasan yang lebih, hal kedua ini sifatnya lebih condong untuk kepuasan batin.
Saya rasakan juga bahwa hal ini lumrah bagi manusia untuk mendapatkan hal yang lebih dan kelebihan itu selalu berkisar di antara hal hal tersebut, hanya setiap orang mempunyai hasrat dan ambisi yang berbeda beda dan di tambah dengan faktor talenta, kemauan untuk kerja keras dan faktor keuntungan tentunya tidak semua orang akan mendapatkan level yang sama.
Di perusahaan di tempat saya bekerja, saya terkadang merasa tertekan di mana atasan saya selalu menganggap saya sebagai budaknya dan segala hasil kerja keras saya selalu di ambil creditnya untuk atasannya lagi. Terkadang sebagai wanita kita juga sering di lecehkan (tidak secara sexual dalam case saya) tetapi dalam arti batas kemampuan kita, kelemahan dan lain sebagainya. Saya mengerti di dunia ini dan sudah menjadi kenyataan ada kecenderungan pria dianggap sebagai manusia yang lebih dalam segala hal sehingga segala sesuatunya akan lebih baik bila pria yang mengerjakannya sehingga mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi.
Oleh karena hal tersebut di atas saya berkesimpulan bahwa sebab sebab dari kesukaan saya untuk menjadi seorang Domina dalam fantasi permainan sex ini mungkin berawal dari ketidak puasan saya dengan kejadian kejadian dan situasi di tempat kerja saya tersebut. Permainan fantasi sex ini seakan membalaskan dendam saya terhadap ketidak puasan dan keadaan di tempat saya bekerja sehingga secara kejiwaan saya bisa menjadi sangat menikmati dan puas bila dapat melihat seorang pria tidak berdaya dan menurut atas kemauan saya apalagi ketidak berdayaannya itu dilakukannya sendiri dengan sukarela dan senang hati.
Pertanyaan pertanyaan dari para pembaca yang menanyakan akan sebab dari kesukaan saya ini semoga bisa dengan jelas terjawab dalam penjelasannya yang saya ungkapkan dengan sejujur jujurnya diatas.
Mungkin cukup penjelasan saya mengenai back ground dari kesukaan saya ini, kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya dengan seorang pria yang kebetulan juga cocok dengan fantasi saya dan juga cocok selera dengan saya dari segi fisik maupun sifatnya.
Seleksi dan Recruitment
Pertemuan saya dengan budak cowok saya yang baru ini berawal dari email. Setelah pemuatan cerita saya yang berjudul "Pemijat Submissive", banyak sekali cowok yang berkirim surat kepada saya untuk meminta dijadikan budaknya. Namun dari sekian banyak email saya memilih beberapa saja yang saya balas, tentunya dari balasan yang ada saya juga menyeleksi ulang lagi cowok-cowok yang mendaftar untuk menjadi budak saya.
Kriteria pemilihan saya terutama adalah orang yang intelegent, open minded dan tentunya benar benar menghayati perannya sebagai seorang budak. Kemudian saya juga memeriksa background orang tersebut dari segi materi, kebersihan dan status perkawinan. Saya sengaja mencari orang yang status sosialnya cukup tinggi, sudah kawin dan cukup mapan, pertimbangan ini saya pilih untuk menghindari masalah privacy saya di dunia luar, karena saya juga yakin seorang dengan kriteria yang tadi juga ingin rahasia jati dirinya di jaga sehingga kami bisa saling menjaga privacy.
Dari proses penyaringan tersebut akhirnya saya memilih satu kandidat yang saya pikir cukup memadai, namanya Anwar. Dia adalah seorang Chinese yang cukup mapan, berasal dari keluarga yang terhormat, sudah kawin dan berusia 32 tahun. Setelah kurang lebih 1 bulan kami saling mengenal diri melalui telepon dan email akhirnya saya merasa sudah cukup comfortable untuk bertemu langsung dengan dia.
Pertemuan kami atur di sebuah Mall besar di Jakarta Barat yang sangat terkenal dan ramai, pertemuan ini di sepakati pada hari dan jam kerja, di sebuah coffe shop.
Saya sengaja datang 60 menit lebih awal untuk mempelajari situasi dan menyiapkan jalan untuk back out dari pertemuan ini bila ternyata si Anwar itu tidak cocok dengan deskripsi yang telah dia berikan, terus terang pembaca saya sangat nervous sekali waktu itu.
Sambil duduk dan minum cafe late yang sudah dihidangkan saya berharap harap cemas menunggu pertemuan dengan Anwar, jantung saya berdebar debar keras, dan efek dari coffe yang saya minum sepertinya membuatnya menjadi tambah parah. Tiba tiba telepon HP saya berdering, sepertinya jantung saya hampir copot mendengarnya, memang kami sudah berjanji untuk saling menelpon bila sudah dekat di lokasi.
"Hello Mbak, saya Anwar.."
"Oh iya.. Sudah dimana kamu?" desahku sambil gemetar.
Sambil menjawab saya melihat ke sekeliling coffe shop, ketika itu saya melihat seseorang cowok yang sedang berdiri dan celingukan sambil menelpon. Mata kami beradu dan dia tersenyum sambil mengangukan kepalanya, seketika itu saya langsung tahu kalau cowok itu adalah Anwar yang sepertinya sudah saya kenal walau hanya melalui telepon dan email. Dia berjalan menghampiri saya sambil tersenyum dan menyodorkan tangannya untuk berjabatan tangan.
Para pembaca, pertemuan yang mendebarkan ini ternyata cukup menyenangkan, saya seketika merasa nyaman sekali berada di dekat si Anwar setelah bertemu dan mengobrol ngalor ngidul tentang kehidupan kami. Orangnya menurut saya sangat open minded, pintar dan sedikit pemalu, secara fisik cukup menarik, tingginya sekitar 180 cm, kulitnya putih bersih kecoklatan, rambut pendek, badan cukup berisi hanya sedikit gemuk di sekitar pinggang.
Tanpa terasa kami sudah ngobrol selama 1 jam, selama ngobrol mata kami saling bertatapan, dan saya melihat ketulusan dan kejujuran di sorot matanya, sesekali dia menundukan mata bila saya bertanya yang sifatnya sangat pribadi, saya merasa berada diatas angin dan mendominasi pembicaraan. Bahan pembicaraan kami sama sekali tidak menyinggung mengenai permainan sex yang kita gemari tetapi lebih banyak ke keluarga, kerja dan lain lain. Sepertinya kita bisa saling terbuka dengan kehidupan kami. Saya juga merasakan adanya peningkatan atas kepercayaan dan merasa comfortable dengan dia.
Setelah pertemuan itu, kita berjanji untuk saling kontak untuk pertemuan berikutnya melalui email dan telepon, mungkin kita malu untuk memulai pembicaraan tentang fantasi permainan yang memang kami sukai itu secara langsung, mungkin karena ini pun pertemuan pertama kita.
Setibanya saya di rumah saya langsung menyalakan note book dan mulai menulis email untuk Anwar untuk pertemuan kita yang lebih lanjut. Di dalam email intinya saya menyatakan kepada dia bahwa saya ingin menjadikan dia seorang budak sex pemuas nafsu yang mengabdikan badan dan jiwanya kepada saya sebagai Mistressnya, tentunya dengan batas batas tertentu yang dia punyai, untuk itu saya menanyakan komitmen dia dan batas batas yang di sanggupi oleh dia.
Di dalam email saya juga menulis semacam pernyataan atau perjanjian mengenai kerahasian dan kebersihan yang harus di lengkapi dengan hasil pemeriksaan lab atas bebasnya dia dari penyakit penyakit kelamin sebagai syarat saya untuk menyewa dia sebagai budak sex saya.
Setelah kurang lebih 1 minggu (yang serasa lama sekali) saya mendapatkan email balasan dari si Anwar. Dengan berdebar debar saya mulai membuka dan membaca email balasan darinya. Di dalam emailnya dia menyanggupi segala syarat dan keinginan saya, dia juga bahkan melampirkan hasil scan dari hasil pemeriksaan lab yang meluluskan dia dari penyakit penyakit. Dia sangat ingin segera mengabdikan dirinya untuk saya dan juga menuliskan batasan batasan yang dia inginkan.
Pembaca, menurut saya batasan batasan yang di berikan oleh dia cukup bisa dimengerti. Batasan utama yang diinginkan adalah mengenai kerahasiaan sehingga permainan hanya berlaku di dalam tempat yang aman dan discreet dan di luar dari itu hubungan kita tetap hanya sebagai teman biasa, sehingga "public humiliation/punishment" tidak bisa di terapkan di dalam permainan kami. Batasan lainnya juga mengenai penyiksaan yang sampai menimbulkan luka permanen atau mengeluarkan darah juga tidak dapat di tolerir karena dapat menimbulkan bekas dan berbahaya. Kemudian ada juga batasan untuk permainan "force feminization" atau dimana saya melecehkan dia dengan mendandani dia dengan pakaian perempuan. Sebagai tambahan safety kami juga mempunyai semacam kata kode, dimana bila dia atau saya mengatakan kode itu semua permainan akan berakhir.
Bersambung . . . . .. .
Selama 8 tahun saya terus berambisi dan bekerja keras untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi lagi, dimana bukan hanya imbalan materi dan fasilitas yang lebih baik, tetapi juga untuk mendapatkan kekuasan yang lebih, hal kedua ini sifatnya lebih condong untuk kepuasan batin.
Saya rasakan juga bahwa hal ini lumrah bagi manusia untuk mendapatkan hal yang lebih dan kelebihan itu selalu berkisar di antara hal hal tersebut, hanya setiap orang mempunyai hasrat dan ambisi yang berbeda beda dan di tambah dengan faktor talenta, kemauan untuk kerja keras dan faktor keuntungan tentunya tidak semua orang akan mendapatkan level yang sama.
Di perusahaan di tempat saya bekerja, saya terkadang merasa tertekan di mana atasan saya selalu menganggap saya sebagai budaknya dan segala hasil kerja keras saya selalu di ambil creditnya untuk atasannya lagi. Terkadang sebagai wanita kita juga sering di lecehkan (tidak secara sexual dalam case saya) tetapi dalam arti batas kemampuan kita, kelemahan dan lain sebagainya. Saya mengerti di dunia ini dan sudah menjadi kenyataan ada kecenderungan pria dianggap sebagai manusia yang lebih dalam segala hal sehingga segala sesuatunya akan lebih baik bila pria yang mengerjakannya sehingga mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi.
Oleh karena hal tersebut di atas saya berkesimpulan bahwa sebab sebab dari kesukaan saya untuk menjadi seorang Domina dalam fantasi permainan sex ini mungkin berawal dari ketidak puasan saya dengan kejadian kejadian dan situasi di tempat kerja saya tersebut. Permainan fantasi sex ini seakan membalaskan dendam saya terhadap ketidak puasan dan keadaan di tempat saya bekerja sehingga secara kejiwaan saya bisa menjadi sangat menikmati dan puas bila dapat melihat seorang pria tidak berdaya dan menurut atas kemauan saya apalagi ketidak berdayaannya itu dilakukannya sendiri dengan sukarela dan senang hati.
Pertanyaan pertanyaan dari para pembaca yang menanyakan akan sebab dari kesukaan saya ini semoga bisa dengan jelas terjawab dalam penjelasannya yang saya ungkapkan dengan sejujur jujurnya diatas.
Mungkin cukup penjelasan saya mengenai back ground dari kesukaan saya ini, kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya dengan seorang pria yang kebetulan juga cocok dengan fantasi saya dan juga cocok selera dengan saya dari segi fisik maupun sifatnya.
Seleksi dan Recruitment
Pertemuan saya dengan budak cowok saya yang baru ini berawal dari email. Setelah pemuatan cerita saya yang berjudul "Pemijat Submissive", banyak sekali cowok yang berkirim surat kepada saya untuk meminta dijadikan budaknya. Namun dari sekian banyak email saya memilih beberapa saja yang saya balas, tentunya dari balasan yang ada saya juga menyeleksi ulang lagi cowok-cowok yang mendaftar untuk menjadi budak saya.
Kriteria pemilihan saya terutama adalah orang yang intelegent, open minded dan tentunya benar benar menghayati perannya sebagai seorang budak. Kemudian saya juga memeriksa background orang tersebut dari segi materi, kebersihan dan status perkawinan. Saya sengaja mencari orang yang status sosialnya cukup tinggi, sudah kawin dan cukup mapan, pertimbangan ini saya pilih untuk menghindari masalah privacy saya di dunia luar, karena saya juga yakin seorang dengan kriteria yang tadi juga ingin rahasia jati dirinya di jaga sehingga kami bisa saling menjaga privacy.
Dari proses penyaringan tersebut akhirnya saya memilih satu kandidat yang saya pikir cukup memadai, namanya Anwar. Dia adalah seorang Chinese yang cukup mapan, berasal dari keluarga yang terhormat, sudah kawin dan berusia 32 tahun. Setelah kurang lebih 1 bulan kami saling mengenal diri melalui telepon dan email akhirnya saya merasa sudah cukup comfortable untuk bertemu langsung dengan dia.
Pertemuan kami atur di sebuah Mall besar di Jakarta Barat yang sangat terkenal dan ramai, pertemuan ini di sepakati pada hari dan jam kerja, di sebuah coffe shop.
Saya sengaja datang 60 menit lebih awal untuk mempelajari situasi dan menyiapkan jalan untuk back out dari pertemuan ini bila ternyata si Anwar itu tidak cocok dengan deskripsi yang telah dia berikan, terus terang pembaca saya sangat nervous sekali waktu itu.
Sambil duduk dan minum cafe late yang sudah dihidangkan saya berharap harap cemas menunggu pertemuan dengan Anwar, jantung saya berdebar debar keras, dan efek dari coffe yang saya minum sepertinya membuatnya menjadi tambah parah. Tiba tiba telepon HP saya berdering, sepertinya jantung saya hampir copot mendengarnya, memang kami sudah berjanji untuk saling menelpon bila sudah dekat di lokasi.
"Hello Mbak, saya Anwar.."
"Oh iya.. Sudah dimana kamu?" desahku sambil gemetar.
Sambil menjawab saya melihat ke sekeliling coffe shop, ketika itu saya melihat seseorang cowok yang sedang berdiri dan celingukan sambil menelpon. Mata kami beradu dan dia tersenyum sambil mengangukan kepalanya, seketika itu saya langsung tahu kalau cowok itu adalah Anwar yang sepertinya sudah saya kenal walau hanya melalui telepon dan email. Dia berjalan menghampiri saya sambil tersenyum dan menyodorkan tangannya untuk berjabatan tangan.
Para pembaca, pertemuan yang mendebarkan ini ternyata cukup menyenangkan, saya seketika merasa nyaman sekali berada di dekat si Anwar setelah bertemu dan mengobrol ngalor ngidul tentang kehidupan kami. Orangnya menurut saya sangat open minded, pintar dan sedikit pemalu, secara fisik cukup menarik, tingginya sekitar 180 cm, kulitnya putih bersih kecoklatan, rambut pendek, badan cukup berisi hanya sedikit gemuk di sekitar pinggang.
Tanpa terasa kami sudah ngobrol selama 1 jam, selama ngobrol mata kami saling bertatapan, dan saya melihat ketulusan dan kejujuran di sorot matanya, sesekali dia menundukan mata bila saya bertanya yang sifatnya sangat pribadi, saya merasa berada diatas angin dan mendominasi pembicaraan. Bahan pembicaraan kami sama sekali tidak menyinggung mengenai permainan sex yang kita gemari tetapi lebih banyak ke keluarga, kerja dan lain lain. Sepertinya kita bisa saling terbuka dengan kehidupan kami. Saya juga merasakan adanya peningkatan atas kepercayaan dan merasa comfortable dengan dia.
Setelah pertemuan itu, kita berjanji untuk saling kontak untuk pertemuan berikutnya melalui email dan telepon, mungkin kita malu untuk memulai pembicaraan tentang fantasi permainan yang memang kami sukai itu secara langsung, mungkin karena ini pun pertemuan pertama kita.
Setibanya saya di rumah saya langsung menyalakan note book dan mulai menulis email untuk Anwar untuk pertemuan kita yang lebih lanjut. Di dalam email intinya saya menyatakan kepada dia bahwa saya ingin menjadikan dia seorang budak sex pemuas nafsu yang mengabdikan badan dan jiwanya kepada saya sebagai Mistressnya, tentunya dengan batas batas tertentu yang dia punyai, untuk itu saya menanyakan komitmen dia dan batas batas yang di sanggupi oleh dia.
Di dalam email saya juga menulis semacam pernyataan atau perjanjian mengenai kerahasian dan kebersihan yang harus di lengkapi dengan hasil pemeriksaan lab atas bebasnya dia dari penyakit penyakit kelamin sebagai syarat saya untuk menyewa dia sebagai budak sex saya.
Setelah kurang lebih 1 minggu (yang serasa lama sekali) saya mendapatkan email balasan dari si Anwar. Dengan berdebar debar saya mulai membuka dan membaca email balasan darinya. Di dalam emailnya dia menyanggupi segala syarat dan keinginan saya, dia juga bahkan melampirkan hasil scan dari hasil pemeriksaan lab yang meluluskan dia dari penyakit penyakit. Dia sangat ingin segera mengabdikan dirinya untuk saya dan juga menuliskan batasan batasan yang dia inginkan.
Pembaca, menurut saya batasan batasan yang di berikan oleh dia cukup bisa dimengerti. Batasan utama yang diinginkan adalah mengenai kerahasiaan sehingga permainan hanya berlaku di dalam tempat yang aman dan discreet dan di luar dari itu hubungan kita tetap hanya sebagai teman biasa, sehingga "public humiliation/punishment" tidak bisa di terapkan di dalam permainan kami. Batasan lainnya juga mengenai penyiksaan yang sampai menimbulkan luka permanen atau mengeluarkan darah juga tidak dapat di tolerir karena dapat menimbulkan bekas dan berbahaya. Kemudian ada juga batasan untuk permainan "force feminization" atau dimana saya melecehkan dia dengan mendandani dia dengan pakaian perempuan. Sebagai tambahan safety kami juga mempunyai semacam kata kode, dimana bila dia atau saya mengatakan kode itu semua permainan akan berakhir.
Bersambung . . . . .. .
03:58
Budak pemuasku - 2
Setelah semua formalitas tersebut dibicarakan dan di sepakati, akhirnya tibalah saatnya untuk saya menikmati budak sex baru yang saya recruit. Kami berjanji untuk bertemu di sebuah hotel di Jakarta di waktu jam kerja, setelah makan siang sampai sore hari. Saya menuliskan instruksi instruksi untuk persiapan apa saja yang harus disediakan pada saat pertemuan tersebut melalui SMS dan email.
Saya menginstruksikan dia untuk menyediakan sebuah rantai anjing yang mengunakan kulit pada pegangan penuntunya, jepitan baju, lilin putih yang besar, sebatang pengaris kayu, dasi dasi tua yang banyak, borgol besi 1 pasang, sarung tangan latex dan KY Jelly. Pada saat saya menulis itu, jantung saya berdebar debar dan muka saya terasa panas karena sudah membayangkan hal apa saja yang akan saya lakukan ke dia. Imajinasi saya berlari ke mana mana dan gambaran gambaran akan siksaan siksaan yang akan saya lakukan membuat saya menjadi sangat horny.
Pada hari yang sudah di sepakati, pagi pagi hari sekali saya menelpon kantor untuk meminta ijin untuk tidak masuk hari itu, dan saya sudah sengaja untuk mengalihkan semua appointment yang ada di hari itu untuk direschedule ke esokan harinya. Asisten pribadi saya juga sudah saya beritahu bahwa hari ini saya ada keperluan mendesak yang harus diselesaikan di luar kantor, sehingga semua urusan yang ada saya delegasikan ke asisten saya.
4 jam sebelum waktu yang di sepakati saya menulis SMS ke Anwar untuk detail persiapan yang harus dia lakukan, sehingga pada waktu saya datang di kamar hotel yang sudah di siapkan olehnya dia sudah siap untuk melayani saya. Saya meminta dia untuk mandi yang bersih (kalau perlu luluran), dan berdiri menunggu saya di depan pintu dalam kamar hotel dalam keadaan telanjang bulat dan mengenakan rantai anjing di lehernya dengan mata yang di tutup erat oleh sebuah dasi berwarna hitam. Saya juga meminta rantai anjing tersebut dililitkan di sekeliling lehernya dan dengan kulit penuntunnya digigit di mulutnya.
Kurang lebih jam 12 siang saya mendapat SMS dari Anwar yang berbunyi, "Saya sudah siap dan sedang menunggu di kamar 1811 untuk digunakan oleh kamu" melihat kata kata di SMS itu darah saya terkesiap dan bulu di tengkuk saya merinding membayangkan kenikmatan yang akan saya peroleh.
Saya bergegas mengenakan sepasang pakaian dalam lace saya yang berwarna hitam dan di baluti oleh sebuah blouse putih yang tipis serta satu stel blaser dan rok berwarna abu abu tua, saya juga sengaja menyemprotkan winyak wangi sekujur tubuh saya sehingga menjadi sangat semerbak wangi menggoda bila saya berjalan. Setelah berdandan saya dengan tergesa gesa mengambil kunci mobil saya dan mulai menyetir ke arah hotel tempat kita berjanji yang di tempuh kurang lebih hanya 15 menit.
The Game is Beginning
Tibalah saya di depan pintu kamar hotel, saya memencet bel yang berada di depan pintu kamar. Seketika pintu di buka, ini menandakan budak saya sudah dengan tepat mengikuti instruksi dari saya. Segera saya masuk dan menutup pintu dan mengunci rantai pintu dalam. Saya melihat di depan saya seorang pria budak pemuas saya sedang berdiri tegap dengan posisi tangan silang ke belakang punggung dan kaki sedikit terbuka lebar, kelihatannya dia sangat menghayati perannya sebagai budak saya, terlihat penisnya sudah setengah ereksi mungkin karena sangat berantisipasi menunggu kedatangan saya, saya tersenyum melihat pemandangan di depan saya, selama kurang lebih 2 menit saya mempelajari badan yang akan diberikan kepada saya dalam 4-5 jam ke depan.
Para pembaca, saya sengaja menginstruksikan Anwar untuk mengenakan penutup mata, sehingga dia tidak dapat melihat ekspresi muka saya yang mungkin sedikit grogi atau tersenyum geli melihat dia yang sedang menggunakan rantai anjing dan mengigit kulit penuntun rantai anjing yang berwarna merah itu. Saya tidak mau wibawa saya hilang karenanya, jadi lebih baik matanya tertutup, dan saya pikir harusnya untuk dia sensasinya lebih besar juga bila dia pasrah dan tidak bisa melihat siapa yang datang dan mengunakan badannya.
Pelan Pelan saya ambil kulit penuntun rantai anjing yang di gigit di mulutnya dan melepaskan beberapa lilitan rantai besi yang berada di lehernya, kemudian saya menuntun dia ke tengah ruangan kamar di depan tempat tidur. Dengan posisinya berdiri yang sama dan dengan kepalanya menunduk. Saya berjalan perlahan mengelilingi dia sambil memeriksa dan menginspeksi badannya yang putih kecoklatan dan bersih itu.
Sekali kali saya membelai belai badannya untuk merasakan apakah dia sudah luluran dan mandi dengan bersih. Dengan lembut dan perlahan saya juga meremas remas penis dan kantung dimana dua buah bolanya berada untuk merasakan kejantanannya, dan menciumi dadanya dengan lembut untuk merasakan bau aroma badannya yang sebentar lagi akan saya pakai dengan seenak enaknya.
Anwar budak saya itu pasrah dan diam saja, saya bisa merasakan bahwa dia sangat excited sekali dengan perlakuan saya itu, sekali kali dia melenguh keenakan pada saat saya menyentuh bagian bagian sensitif di badannya. Setelah kurang lebih 10 menit saya melakukan inspeksi badannya dan puas dengan hasil inspeksi saya duduk di depannya di pinggiran ranjang.
Saya berkata, "Sekarang kamu berlutut..!". Dengan patuh dia menjatuhkan lututnya untuk berlutut di atas karpet, dengan mata masih tertutup dan kepala yang menunduk.
Kemudian dengan lembut dan tegas saya berkata di depan mukanya..
"Mulai detik ini, kamu adalah budak saya, badan dan jiwa kamu menjadi milik saya sampai sesi ini selesai, kamu enggak berhak lagi atas badan kamu, penis kamu, lidah kamu, muka kamu, tangan kamu, kaki kamu semuanya gunanya untuk memuaskan saya, kamu ngerti..?"
"Saya mengerti, silakan Ibu memakai badan saya untuk kesenangan dan kepuasan Ibu dengan seenak enaknya dan seegois egoisnya tanpa memikirkan saya sama sekali, semoga saya dapat memberikan kenikmatan buat Ibu, bila tidak silakan saya di hukum dan di siksa..", jawabnya dengan gemetar.
"Oke.. Bagus.." jawab saya.
"Mulut kamu juga tidak boleh bicara tanpa ijin, kecuali bila saya beri pertanyaan, kalau enggak badan kamu nanti saya siksa", lanjutku. Dia menganggukkan kepalanya dengan pasrah.
Saya beranjak berdiri sambil melepas blazer untuk menjadi lebih nyaman. Saya mengacuhkan keadaan slave saya yang masih berlutut telanjang di kamar hotel, seakan akan dia hanyalah sebuah benda yang bernafas dan berfungsi untuk saya nikmati bila saya inginkan. Saya berjalan jalan di kamar, melihat lihat pemandangan di jendela kamar hotel, menyalakan TV dan memilih milih channel yang bagus sambil tidur-tiduran. Kemudian perhatian saya tertumpu kepada sebuah tas gym yang berwarna hitam yang terongok di sudut kamar.
Satu persatu saya keluarkan barang barang yang ada di dalam tas itu dan saya susun di atas ranjang. Salah satu benda yang ada adalah sebuah borgol besi, saya ambil dan saya kenakan borgol itu ke dua tangannya dibelakang punggung budakku yang sedang berlutut. Sambil mengenakan borgol, saya berkata,
"Saya suka melihat melihat budak kesayangan saya menderita kesakitan dan enggak berdaya, jadi sekarang kamu akan saya siksa walaupun kamu enggak ngelakuin kesalahan apa apa, tapi penderitaan kamu bikin saya jadi terangsang, kamu senang kan di gituiin..?".
"Silakan Bu, saya senang sekali"
Saya ambil beberapa penjepit pakaian, kemudian saya cubit puting dadanya dan saya jepit masing masing satu penjepit di setiap puting. Belum puas melihat ringgisan di mukanya saya ambil lagi beberapa jepitan dan saya jepitkan di kantung dimana tempat dua biji penisnya berada, reaksinya sungguh luar biasa, setiap saya menjepitkan satu jepitan, dia melenguh kesakitan dan bergerak gerak kakinya, sehingga ada beberapa jepitan yang jatuh dan berbunyi, "Snnapp..".
Saya jambak rambut dia dan saya bilang, "Jangan gerak gerak! Atau nanti penis kamu saya jepit juga..".
Dengan patuh dia berusaha untuk diam dan menahan sakit. Terlihat dia mulai mengigit bibir bawahnya dan badannya gemetar menahan sakit, peluh mulai membasahi badannya yang sexy.
Saya duduk di depannya tersenyum menikmati hasil kreasi yang saya ciptakan, terlihat jepitan baju yang berwarna warni memenuhi areal sekitar penisnya dan sepasang jepitan di nipplenya. Kemudian saya memerintahkan dia untuk melakukan jongkok berdiri selama 20 kali dengan badan yang tegap lurus, dan saya suruh dia menghitung jumlah jongkok berdiri itu dengan keras.
"Satu.. Dua.. Tiga.." dan seterusnya.
Nafasnya mulai terengah engah dan keringat mulai membanjiri badannya sehingga menimbulkan efek mengkilat pada otot otot dibadannya yang sexy itu. Sesekali karena gerakan jongkok berdiri itu beberapa jepitan lepas, dan setiap jepitan lepas budak saya menggumam menahan rasa sakit. Oh rasanya nikmat sekali melihatnya seperti itu, dan saya mulai horny dan basah karenanya. Setelah selesai saya suruh dia berdiri, dan saya berjalan mengitarinya sambil membelai belai badannya yang basah oleh keringat, sesekali saya menyuruh dia untuk menjilati jari jari saya yang basah karena memegang megang keringat di badannya.
Saya mengambil handuk kecil di kamar mandi, dan melepaskan borgol dan ikatan matanya, kemudian saya memberikan handuk itu sambil berkata,
"Bersihin keringet di badan kamu.. Sekarang kamu harus puasin saya yah.. Ayo kalo udah selesai keringin keringet kamu, buka baju saya satu persatu dan gantung baju saya yang rapi jangan sampai ada yang lecek."
Dengan patuh dia mulai melap badannya yang berkeringat, kemudian dengan kepala menunduk dia menghampiri saya.
"Ayo sekarang buka bajuku.."
"Baik Bu.., maaf, permisi Bu.."
Bersambung . . . . ..
Saya menginstruksikan dia untuk menyediakan sebuah rantai anjing yang mengunakan kulit pada pegangan penuntunya, jepitan baju, lilin putih yang besar, sebatang pengaris kayu, dasi dasi tua yang banyak, borgol besi 1 pasang, sarung tangan latex dan KY Jelly. Pada saat saya menulis itu, jantung saya berdebar debar dan muka saya terasa panas karena sudah membayangkan hal apa saja yang akan saya lakukan ke dia. Imajinasi saya berlari ke mana mana dan gambaran gambaran akan siksaan siksaan yang akan saya lakukan membuat saya menjadi sangat horny.
Pada hari yang sudah di sepakati, pagi pagi hari sekali saya menelpon kantor untuk meminta ijin untuk tidak masuk hari itu, dan saya sudah sengaja untuk mengalihkan semua appointment yang ada di hari itu untuk direschedule ke esokan harinya. Asisten pribadi saya juga sudah saya beritahu bahwa hari ini saya ada keperluan mendesak yang harus diselesaikan di luar kantor, sehingga semua urusan yang ada saya delegasikan ke asisten saya.
4 jam sebelum waktu yang di sepakati saya menulis SMS ke Anwar untuk detail persiapan yang harus dia lakukan, sehingga pada waktu saya datang di kamar hotel yang sudah di siapkan olehnya dia sudah siap untuk melayani saya. Saya meminta dia untuk mandi yang bersih (kalau perlu luluran), dan berdiri menunggu saya di depan pintu dalam kamar hotel dalam keadaan telanjang bulat dan mengenakan rantai anjing di lehernya dengan mata yang di tutup erat oleh sebuah dasi berwarna hitam. Saya juga meminta rantai anjing tersebut dililitkan di sekeliling lehernya dan dengan kulit penuntunnya digigit di mulutnya.
Kurang lebih jam 12 siang saya mendapat SMS dari Anwar yang berbunyi, "Saya sudah siap dan sedang menunggu di kamar 1811 untuk digunakan oleh kamu" melihat kata kata di SMS itu darah saya terkesiap dan bulu di tengkuk saya merinding membayangkan kenikmatan yang akan saya peroleh.
Saya bergegas mengenakan sepasang pakaian dalam lace saya yang berwarna hitam dan di baluti oleh sebuah blouse putih yang tipis serta satu stel blaser dan rok berwarna abu abu tua, saya juga sengaja menyemprotkan winyak wangi sekujur tubuh saya sehingga menjadi sangat semerbak wangi menggoda bila saya berjalan. Setelah berdandan saya dengan tergesa gesa mengambil kunci mobil saya dan mulai menyetir ke arah hotel tempat kita berjanji yang di tempuh kurang lebih hanya 15 menit.
The Game is Beginning
Tibalah saya di depan pintu kamar hotel, saya memencet bel yang berada di depan pintu kamar. Seketika pintu di buka, ini menandakan budak saya sudah dengan tepat mengikuti instruksi dari saya. Segera saya masuk dan menutup pintu dan mengunci rantai pintu dalam. Saya melihat di depan saya seorang pria budak pemuas saya sedang berdiri tegap dengan posisi tangan silang ke belakang punggung dan kaki sedikit terbuka lebar, kelihatannya dia sangat menghayati perannya sebagai budak saya, terlihat penisnya sudah setengah ereksi mungkin karena sangat berantisipasi menunggu kedatangan saya, saya tersenyum melihat pemandangan di depan saya, selama kurang lebih 2 menit saya mempelajari badan yang akan diberikan kepada saya dalam 4-5 jam ke depan.
Para pembaca, saya sengaja menginstruksikan Anwar untuk mengenakan penutup mata, sehingga dia tidak dapat melihat ekspresi muka saya yang mungkin sedikit grogi atau tersenyum geli melihat dia yang sedang menggunakan rantai anjing dan mengigit kulit penuntun rantai anjing yang berwarna merah itu. Saya tidak mau wibawa saya hilang karenanya, jadi lebih baik matanya tertutup, dan saya pikir harusnya untuk dia sensasinya lebih besar juga bila dia pasrah dan tidak bisa melihat siapa yang datang dan mengunakan badannya.
Pelan Pelan saya ambil kulit penuntun rantai anjing yang di gigit di mulutnya dan melepaskan beberapa lilitan rantai besi yang berada di lehernya, kemudian saya menuntun dia ke tengah ruangan kamar di depan tempat tidur. Dengan posisinya berdiri yang sama dan dengan kepalanya menunduk. Saya berjalan perlahan mengelilingi dia sambil memeriksa dan menginspeksi badannya yang putih kecoklatan dan bersih itu.
Sekali kali saya membelai belai badannya untuk merasakan apakah dia sudah luluran dan mandi dengan bersih. Dengan lembut dan perlahan saya juga meremas remas penis dan kantung dimana dua buah bolanya berada untuk merasakan kejantanannya, dan menciumi dadanya dengan lembut untuk merasakan bau aroma badannya yang sebentar lagi akan saya pakai dengan seenak enaknya.
Anwar budak saya itu pasrah dan diam saja, saya bisa merasakan bahwa dia sangat excited sekali dengan perlakuan saya itu, sekali kali dia melenguh keenakan pada saat saya menyentuh bagian bagian sensitif di badannya. Setelah kurang lebih 10 menit saya melakukan inspeksi badannya dan puas dengan hasil inspeksi saya duduk di depannya di pinggiran ranjang.
Saya berkata, "Sekarang kamu berlutut..!". Dengan patuh dia menjatuhkan lututnya untuk berlutut di atas karpet, dengan mata masih tertutup dan kepala yang menunduk.
Kemudian dengan lembut dan tegas saya berkata di depan mukanya..
"Mulai detik ini, kamu adalah budak saya, badan dan jiwa kamu menjadi milik saya sampai sesi ini selesai, kamu enggak berhak lagi atas badan kamu, penis kamu, lidah kamu, muka kamu, tangan kamu, kaki kamu semuanya gunanya untuk memuaskan saya, kamu ngerti..?"
"Saya mengerti, silakan Ibu memakai badan saya untuk kesenangan dan kepuasan Ibu dengan seenak enaknya dan seegois egoisnya tanpa memikirkan saya sama sekali, semoga saya dapat memberikan kenikmatan buat Ibu, bila tidak silakan saya di hukum dan di siksa..", jawabnya dengan gemetar.
"Oke.. Bagus.." jawab saya.
"Mulut kamu juga tidak boleh bicara tanpa ijin, kecuali bila saya beri pertanyaan, kalau enggak badan kamu nanti saya siksa", lanjutku. Dia menganggukkan kepalanya dengan pasrah.
Saya beranjak berdiri sambil melepas blazer untuk menjadi lebih nyaman. Saya mengacuhkan keadaan slave saya yang masih berlutut telanjang di kamar hotel, seakan akan dia hanyalah sebuah benda yang bernafas dan berfungsi untuk saya nikmati bila saya inginkan. Saya berjalan jalan di kamar, melihat lihat pemandangan di jendela kamar hotel, menyalakan TV dan memilih milih channel yang bagus sambil tidur-tiduran. Kemudian perhatian saya tertumpu kepada sebuah tas gym yang berwarna hitam yang terongok di sudut kamar.
Satu persatu saya keluarkan barang barang yang ada di dalam tas itu dan saya susun di atas ranjang. Salah satu benda yang ada adalah sebuah borgol besi, saya ambil dan saya kenakan borgol itu ke dua tangannya dibelakang punggung budakku yang sedang berlutut. Sambil mengenakan borgol, saya berkata,
"Saya suka melihat melihat budak kesayangan saya menderita kesakitan dan enggak berdaya, jadi sekarang kamu akan saya siksa walaupun kamu enggak ngelakuin kesalahan apa apa, tapi penderitaan kamu bikin saya jadi terangsang, kamu senang kan di gituiin..?".
"Silakan Bu, saya senang sekali"
Saya ambil beberapa penjepit pakaian, kemudian saya cubit puting dadanya dan saya jepit masing masing satu penjepit di setiap puting. Belum puas melihat ringgisan di mukanya saya ambil lagi beberapa jepitan dan saya jepitkan di kantung dimana tempat dua biji penisnya berada, reaksinya sungguh luar biasa, setiap saya menjepitkan satu jepitan, dia melenguh kesakitan dan bergerak gerak kakinya, sehingga ada beberapa jepitan yang jatuh dan berbunyi, "Snnapp..".
Saya jambak rambut dia dan saya bilang, "Jangan gerak gerak! Atau nanti penis kamu saya jepit juga..".
Dengan patuh dia berusaha untuk diam dan menahan sakit. Terlihat dia mulai mengigit bibir bawahnya dan badannya gemetar menahan sakit, peluh mulai membasahi badannya yang sexy.
Saya duduk di depannya tersenyum menikmati hasil kreasi yang saya ciptakan, terlihat jepitan baju yang berwarna warni memenuhi areal sekitar penisnya dan sepasang jepitan di nipplenya. Kemudian saya memerintahkan dia untuk melakukan jongkok berdiri selama 20 kali dengan badan yang tegap lurus, dan saya suruh dia menghitung jumlah jongkok berdiri itu dengan keras.
"Satu.. Dua.. Tiga.." dan seterusnya.
Nafasnya mulai terengah engah dan keringat mulai membanjiri badannya sehingga menimbulkan efek mengkilat pada otot otot dibadannya yang sexy itu. Sesekali karena gerakan jongkok berdiri itu beberapa jepitan lepas, dan setiap jepitan lepas budak saya menggumam menahan rasa sakit. Oh rasanya nikmat sekali melihatnya seperti itu, dan saya mulai horny dan basah karenanya. Setelah selesai saya suruh dia berdiri, dan saya berjalan mengitarinya sambil membelai belai badannya yang basah oleh keringat, sesekali saya menyuruh dia untuk menjilati jari jari saya yang basah karena memegang megang keringat di badannya.
Saya mengambil handuk kecil di kamar mandi, dan melepaskan borgol dan ikatan matanya, kemudian saya memberikan handuk itu sambil berkata,
"Bersihin keringet di badan kamu.. Sekarang kamu harus puasin saya yah.. Ayo kalo udah selesai keringin keringet kamu, buka baju saya satu persatu dan gantung baju saya yang rapi jangan sampai ada yang lecek."
Dengan patuh dia mulai melap badannya yang berkeringat, kemudian dengan kepala menunduk dia menghampiri saya.
"Ayo sekarang buka bajuku.."
"Baik Bu.., maaf, permisi Bu.."
Bersambung . . . . ..
03:57
Budak pemuasku - 3
Tangannya satu persatu dengan lembut membuka kancing blouse saya. Kelihatannya dia sangat menyukai badan saya yang mulus dan wangi, terlihat penisnya mulai berdiri dan menganguk angguk kesenangan. Setelah saya telanjang bulat dan semua pakaian saya tergantung dengan rapi di lemari, saya menyuruh dia untuk nungging di atas ranjang dengan kaki terbuka dan tangan ke belakang. Kemudian saya kenakan lagi borgol besi ke tangannya di belakang punggungnya, lalu saya sendiri tiduran setengah duduk di sampingnya sambil memegang megang badannya yang dalam posisi pasrah itu. Penisnya saya tarik tarik, betot betot dan kocok kocok, seakan seperti memerah sapi.
"Eh budak, saya mau lidah kamu jilatin seluruh badan saya, mulai dari pundak sampai ke ujung kaki saya. Jangan sampai ada se centi pun yang ketinggalan pokoknya semuanya saya minta di jilat sampai kering, oh yah ampir lupa nih saya pakeiin rantai kamu dulu". Saya pasang rantai anjing di lehernya.
"Ayo mulai jilat jilat kaya anjing, kalo rantai ini saya tarik sekali berarti kamu pindah jilatin ke tempat lain, tapi kalo saya diem aja berarti kamu terus jilatin tempat yang lagi kamu jilatin..,.. Ngerti..?".
"Ngerti Bu.." jawabnya.
Nikmat sekali rasanya dijilati oleh budak saya yang satu ini, sekujur badan saya dijilati dengan telaten, kalo saya udah bosen di jilatin di satu tempat saya hentakan rantainya, baru dia pindah ke tempat lain. Yang membuat saya horny juga meliha dia kesusahan waktu menjilati saya karena tangannya terikat ke belakang, jadi terkadang kepalanya nempel di badan saya karena pegal di otot perutnya menahan bebannya sendiri, biasanya kalo dia kecapeaan saya pukul pantatnya pake penggaris kayu yang ada di samping saya.
Dengan senak enaknya saya mengulet ngulet di atas tempat tidur sementara budak saya terus berusaha menjilati badan saya, sekali kali saya menaikan kaki saya ke atas badannya dan membuat dia semakin menderita karena berat yang di timbulkan.
Pada saat dia menjilati telapak kaki, jari jari di telapak kaki saya yang satunya aktif membelai belai mukanya dan juga menjambak jambak rambutnya. Sensasi di jari kaki saya waktu di jilati dan di hisap satu persatu sungguh luar biasa dengan rajin budak saya mengulum dan menjilati jari kaki saya sampai saya hentakan rantai baru dia pindah ke jari yang berikutnya.
Saya menikmati service budak saya ini sambil menikmati rokok dan menonton TV, kalau saya haus saya suruh dia berhenti dan mengambil minuman kaleng di mini bar (tentunya dengan tangan masih terikat) sehingga dia kesusahan mengambil minuman untuk saya, dengan geli saya tersenyum melihat kesulitan yang dia hadapi. Rasanya enak sekali selama hampir 2 jam saya seperti ratu di manja dan di buat geli oleh lidahnya yang nikmat.
Setelah puas di manja oleh lidahnya, sekujur badan saya menjadi sangat sensitif dan ditambah oleh rasa puas saya, saya ingin sekali climax. Lalu saya bentangkan kaki saya dan membuka lebar anus saya dengan mengunakan kedua tangan saya, kemudian saya menyuruh budak saya untuk menjilati dan memasukan lidahnya ke dalam anus saya, ohh rasanya nikmat luar biasa, lidahnya berputar putar di dalam anus saya dan sekelilingnya.
Setelah itu saya menghentakan rantai anjingnya, bertanda saya ingin dia pindah tempat, sepertinya dia sudah mengerti kalau clitoris saya sudah mengeras dan ingin dijilati. Saya buka bibir vagina saya dan saya benamkan kepala budak saya ke situ dengan posisi lidahnya tepat di clitoris saya.
Tidak lama kemudian saya mencapai climax, rambutnya saya jambak dengan keras selama beberapa menit sementara saya masih menikmati kegelian yang masih ada, lalu saya tendang dia ke lantai dan saya suruh dia menghisap hisap jempol kaki saya sementara saya mengatur napas dan menikmati sisa sisa climax saya itu.
Tanpa terasa selama kurang lebih 20 menit saya terlelap tidur nikmat, dan terbangun oleh rasa ingin kencing dan kuluman lidah budak saya yang masih dengan setia menghisapi jempol kaki saya. Lalu saya duduk dan membuka ikatan borgol di tangan budak saya itu.
"Kamu pintar sekali muasin saya.. Pasti kamu sekarang haus yah..?"
"Terima kasih Bu..,. Iya Bu.. Saya haus"
"OK.. Kalo gitu ayo ikut saya, kamu saya kasih hadiah.."
Saya tuntun dia ke kamar mandi dan menyuruh dia rebahan telentang di dalam bath tub.
"Buka mulut kamu yang lebar, yah.. Sayang!"
Kemudian saya jongkok di atas mukanya dan mulai mengencingi mukanya sambil mengarahkan arus air kencing saya ke mulutnya.
"Ayo.. Di minum semuanya.. Buka mulutnya yang lebih lebar lagi yahh.. Ayoh dongakin kepalanya biar enggak tumpah tumpah.. Sayang.."
Dengan patuh budakku meminum air kencing saya dengan lahap, terlihat jankunnya bergerak naik turun meneguk air kencingku yang masuk ke mulutnya yang terbuka dengan lebar.
Setelah selesai saya menyuruh dia untuk membersihkan vagina saya dengan mulutnya, karena air kencingku tercecer ke mana mana saya berdiri dan menyalakan pancuran shower sementara budak saya masih tiduran di dalam bath tub, saya membersihkan badan saya di pancuran shower yang terletak di atas bathtub sambil satu kaki saya, saya letakan di atas muka slaveku yang masih tiduran di bawah. Setelah selesai saya keluar dari bath tub dan mengeringkan badan dan kaki saya dengan handuk kemudian saya taruh handuk itu di lantai dan saya menyuruh budak saya untuk bersih bersih dan mengeringkan badannya dengan handuk tersebut.
"Ayo bersih bersih.. Jangan lupa pakai sabun yah, biar enggak bau.. Saya tunggu kamu di kamar.. Kalau lama dan enggak bersih nanti kamu saya hukum loh.." ujarku dengan manja.
Selang beberapa menit budak saya selesai bersih bersih, sementara saya duduk di atas kursi di belakang sebuah meja belajar.
Diatas meja saya persiapkan sebuah lilin yang sudah saya nyalakan, gelas kosong, sepasang sarung tangan karet dan KY Jelly.
"Ayo merangkak ke sini sayang.. Saya belum selesai sama kamu.."
Dengan patuh dia merangkak menuju ke arah saya. Sesampainya dia di samping saya, rambut kepalanya saya elus elus, dan sesekali jari tangan saya memainkan bibirnya yang kemudian dia jilati seperti seekor anjing yang patuh.
Saya menyuruh dia untuk naik ke atas meja belajar di depan saya dengan posisi nungging dan kaki terbuka sehingga lubang anus dan penisnya terlihat jelas.
Sambil duduk di belakang meja saya memakai sarung tangan karet dan melumasi KY Jelly dipermukaan sarung tangan. Saya juga memberikan Jelly itu ke sekitar selangkangan, penis dan terutama didalam lubang anusnya. Dengan perlahan saya memasukan jari tengah saya ke dalam anusnya dia yang sudah terlumuri dengan banyak KY jelly, sementara tangan saya yang satu lagi meremas remas dan mengurut urut dengan lembut alat kelaminnya yang sudah licin oleh KY jelly.
Remasan dan urutan saya itu membuat penisnya menjadi sangat keras dan tegang, bila ini terjadi saya menyodok nyodok lubang anusnya dengan kasar sehingga dia menjadi kesakitan dan lemas lagi. Setelah lemas saya urut urut lagi dengan lembut sampai tegang kembali dan seterusnya sampai berulang ulang kali.
Dia sangat menyukai perlakuan ini, hanya mungkin sedikit frustasi karena saya terus goda goda hingga tidak mencapai climax. Penisnya dan area antara lubang anus dan kantung biji saya urut urut dan penisnya saya kocok kocok lembut dengan irama yang perlahan dan menggoda. Sampai suatu saat hampir dia ejakulasi namun saya tekan pangkal penisnya dan saya tetesi dengan lilin panas di sekujur punggung dan lubang pantatnya yang sensitif.
Dia menjerit kesakitan dan minta ampun pada saat saya tetesi lilin, setelah itu mengerang ngerang keenakan bila saya stimulasi alat kelaminnya. Setelah saya pikir dia sudah cukup menderita akhirnya saya urut penisnya dengan tempo yang lambat dan mantap dan makin lama makin cepat, sambil berkata..
"Kamu enggak boleh keluar dulu yah.. Awas loh.. Kalo kamu mau keluar kamu harus minta ijin dulu sama ibu."
"Ibuu saya minta ijin mau keluar.. Ampunn udah enggak tahan lagi..", rintihnya tak lama kemudian.
"Ok.. Ayo keluarin budakku sayang" jawab saya seraya mengambil gelas kosong yang ada di atas meja.
Saya mengarahkan muka gelas itu ke lubang penis di tempat spermanya akan keluar. Selang beberapa detik penisnya menggelembung dan memuntahkan cairan sperma yang sangat banyak. Saya terus mengenggam dan mengurut ngurut penisnya sampai tetes sperma terakhir tertampung di dalam gelas. Terlihat kepuasan di muka slave saya dan sekujur badannya gemetar keenakan, kepalanya lunglai dengan dahi bersender di atas meja.
Lalu saya mengambil sebuah sendok kecil yang biasanya di sediakan di tempat pembuatan kopi/teh di dalam kamar. Lalu saya mengaduk ngaduk gelas yang berisi spermanya itu dan menyuapinya sendok demi sendok sampai habis bersih.
"Enak sayang..?" tanyaku.
"Iya Bu.. Enak sekalii.. Terima kasih Ibu.."
"Pinterr deh slave saya.. Ayo dijilatin sendoknya sampai bersih..!"
*****
Demikianlah para pembaca, sebagian dari cerita permainan saya dengan slave saya Anwar. Permainan ini selalu kami lakukan kira kira 1 minggu sekali tentunya dengan variasi yang berbeda beda. Setelah permainan selesai kami kembali ke dunia nyata kami masing masing.
Biasanya setelah permainan usai sekitar jam 7 malam kami ngobrol ngobrol sambil makan dari orderan room service, kami tidak ada kesulitan dalam berkomunikasi dan bahan pembicaraan kami bisa membahas apa saja seperti teman lama karib yang sudah lama tidak bertemu.
Kami mempunyai komitmen perjanjian untuk tidak saling jatuh cinta karena dia sudah mempunyai keluarga dan saya juga tidak mau mencari masalah, yang penting fantasi saya ini dapat tersalurkan tanpa komplikasi komplikasi yang mungkin dapat terjadi.
Bahkan sebagai bukti penyerahan dirinya kepada saya dan juga sebagai bukti dari kami bahwa kami tidak akan saling jatuh cinta, kami merencanakan untuk meminjamkan badan budak saya kepada wanita lain yang mungkin berminat untuk memakai dia sebagai budaknya untuk sementara.
Apakah di antara pembaca ada yang berminat?
Tamat
"Eh budak, saya mau lidah kamu jilatin seluruh badan saya, mulai dari pundak sampai ke ujung kaki saya. Jangan sampai ada se centi pun yang ketinggalan pokoknya semuanya saya minta di jilat sampai kering, oh yah ampir lupa nih saya pakeiin rantai kamu dulu". Saya pasang rantai anjing di lehernya.
"Ayo mulai jilat jilat kaya anjing, kalo rantai ini saya tarik sekali berarti kamu pindah jilatin ke tempat lain, tapi kalo saya diem aja berarti kamu terus jilatin tempat yang lagi kamu jilatin..,.. Ngerti..?".
"Ngerti Bu.." jawabnya.
Nikmat sekali rasanya dijilati oleh budak saya yang satu ini, sekujur badan saya dijilati dengan telaten, kalo saya udah bosen di jilatin di satu tempat saya hentakan rantainya, baru dia pindah ke tempat lain. Yang membuat saya horny juga meliha dia kesusahan waktu menjilati saya karena tangannya terikat ke belakang, jadi terkadang kepalanya nempel di badan saya karena pegal di otot perutnya menahan bebannya sendiri, biasanya kalo dia kecapeaan saya pukul pantatnya pake penggaris kayu yang ada di samping saya.
Dengan senak enaknya saya mengulet ngulet di atas tempat tidur sementara budak saya terus berusaha menjilati badan saya, sekali kali saya menaikan kaki saya ke atas badannya dan membuat dia semakin menderita karena berat yang di timbulkan.
Pada saat dia menjilati telapak kaki, jari jari di telapak kaki saya yang satunya aktif membelai belai mukanya dan juga menjambak jambak rambutnya. Sensasi di jari kaki saya waktu di jilati dan di hisap satu persatu sungguh luar biasa dengan rajin budak saya mengulum dan menjilati jari kaki saya sampai saya hentakan rantai baru dia pindah ke jari yang berikutnya.
Saya menikmati service budak saya ini sambil menikmati rokok dan menonton TV, kalau saya haus saya suruh dia berhenti dan mengambil minuman kaleng di mini bar (tentunya dengan tangan masih terikat) sehingga dia kesusahan mengambil minuman untuk saya, dengan geli saya tersenyum melihat kesulitan yang dia hadapi. Rasanya enak sekali selama hampir 2 jam saya seperti ratu di manja dan di buat geli oleh lidahnya yang nikmat.
Setelah puas di manja oleh lidahnya, sekujur badan saya menjadi sangat sensitif dan ditambah oleh rasa puas saya, saya ingin sekali climax. Lalu saya bentangkan kaki saya dan membuka lebar anus saya dengan mengunakan kedua tangan saya, kemudian saya menyuruh budak saya untuk menjilati dan memasukan lidahnya ke dalam anus saya, ohh rasanya nikmat luar biasa, lidahnya berputar putar di dalam anus saya dan sekelilingnya.
Setelah itu saya menghentakan rantai anjingnya, bertanda saya ingin dia pindah tempat, sepertinya dia sudah mengerti kalau clitoris saya sudah mengeras dan ingin dijilati. Saya buka bibir vagina saya dan saya benamkan kepala budak saya ke situ dengan posisi lidahnya tepat di clitoris saya.
Tidak lama kemudian saya mencapai climax, rambutnya saya jambak dengan keras selama beberapa menit sementara saya masih menikmati kegelian yang masih ada, lalu saya tendang dia ke lantai dan saya suruh dia menghisap hisap jempol kaki saya sementara saya mengatur napas dan menikmati sisa sisa climax saya itu.
Tanpa terasa selama kurang lebih 20 menit saya terlelap tidur nikmat, dan terbangun oleh rasa ingin kencing dan kuluman lidah budak saya yang masih dengan setia menghisapi jempol kaki saya. Lalu saya duduk dan membuka ikatan borgol di tangan budak saya itu.
"Kamu pintar sekali muasin saya.. Pasti kamu sekarang haus yah..?"
"Terima kasih Bu..,. Iya Bu.. Saya haus"
"OK.. Kalo gitu ayo ikut saya, kamu saya kasih hadiah.."
Saya tuntun dia ke kamar mandi dan menyuruh dia rebahan telentang di dalam bath tub.
"Buka mulut kamu yang lebar, yah.. Sayang!"
Kemudian saya jongkok di atas mukanya dan mulai mengencingi mukanya sambil mengarahkan arus air kencing saya ke mulutnya.
"Ayo.. Di minum semuanya.. Buka mulutnya yang lebih lebar lagi yahh.. Ayoh dongakin kepalanya biar enggak tumpah tumpah.. Sayang.."
Dengan patuh budakku meminum air kencing saya dengan lahap, terlihat jankunnya bergerak naik turun meneguk air kencingku yang masuk ke mulutnya yang terbuka dengan lebar.
Setelah selesai saya menyuruh dia untuk membersihkan vagina saya dengan mulutnya, karena air kencingku tercecer ke mana mana saya berdiri dan menyalakan pancuran shower sementara budak saya masih tiduran di dalam bath tub, saya membersihkan badan saya di pancuran shower yang terletak di atas bathtub sambil satu kaki saya, saya letakan di atas muka slaveku yang masih tiduran di bawah. Setelah selesai saya keluar dari bath tub dan mengeringkan badan dan kaki saya dengan handuk kemudian saya taruh handuk itu di lantai dan saya menyuruh budak saya untuk bersih bersih dan mengeringkan badannya dengan handuk tersebut.
"Ayo bersih bersih.. Jangan lupa pakai sabun yah, biar enggak bau.. Saya tunggu kamu di kamar.. Kalau lama dan enggak bersih nanti kamu saya hukum loh.." ujarku dengan manja.
Selang beberapa menit budak saya selesai bersih bersih, sementara saya duduk di atas kursi di belakang sebuah meja belajar.
Diatas meja saya persiapkan sebuah lilin yang sudah saya nyalakan, gelas kosong, sepasang sarung tangan karet dan KY Jelly.
"Ayo merangkak ke sini sayang.. Saya belum selesai sama kamu.."
Dengan patuh dia merangkak menuju ke arah saya. Sesampainya dia di samping saya, rambut kepalanya saya elus elus, dan sesekali jari tangan saya memainkan bibirnya yang kemudian dia jilati seperti seekor anjing yang patuh.
Saya menyuruh dia untuk naik ke atas meja belajar di depan saya dengan posisi nungging dan kaki terbuka sehingga lubang anus dan penisnya terlihat jelas.
Sambil duduk di belakang meja saya memakai sarung tangan karet dan melumasi KY Jelly dipermukaan sarung tangan. Saya juga memberikan Jelly itu ke sekitar selangkangan, penis dan terutama didalam lubang anusnya. Dengan perlahan saya memasukan jari tengah saya ke dalam anusnya dia yang sudah terlumuri dengan banyak KY jelly, sementara tangan saya yang satu lagi meremas remas dan mengurut urut dengan lembut alat kelaminnya yang sudah licin oleh KY jelly.
Remasan dan urutan saya itu membuat penisnya menjadi sangat keras dan tegang, bila ini terjadi saya menyodok nyodok lubang anusnya dengan kasar sehingga dia menjadi kesakitan dan lemas lagi. Setelah lemas saya urut urut lagi dengan lembut sampai tegang kembali dan seterusnya sampai berulang ulang kali.
Dia sangat menyukai perlakuan ini, hanya mungkin sedikit frustasi karena saya terus goda goda hingga tidak mencapai climax. Penisnya dan area antara lubang anus dan kantung biji saya urut urut dan penisnya saya kocok kocok lembut dengan irama yang perlahan dan menggoda. Sampai suatu saat hampir dia ejakulasi namun saya tekan pangkal penisnya dan saya tetesi dengan lilin panas di sekujur punggung dan lubang pantatnya yang sensitif.
Dia menjerit kesakitan dan minta ampun pada saat saya tetesi lilin, setelah itu mengerang ngerang keenakan bila saya stimulasi alat kelaminnya. Setelah saya pikir dia sudah cukup menderita akhirnya saya urut penisnya dengan tempo yang lambat dan mantap dan makin lama makin cepat, sambil berkata..
"Kamu enggak boleh keluar dulu yah.. Awas loh.. Kalo kamu mau keluar kamu harus minta ijin dulu sama ibu."
"Ibuu saya minta ijin mau keluar.. Ampunn udah enggak tahan lagi..", rintihnya tak lama kemudian.
"Ok.. Ayo keluarin budakku sayang" jawab saya seraya mengambil gelas kosong yang ada di atas meja.
Saya mengarahkan muka gelas itu ke lubang penis di tempat spermanya akan keluar. Selang beberapa detik penisnya menggelembung dan memuntahkan cairan sperma yang sangat banyak. Saya terus mengenggam dan mengurut ngurut penisnya sampai tetes sperma terakhir tertampung di dalam gelas. Terlihat kepuasan di muka slave saya dan sekujur badannya gemetar keenakan, kepalanya lunglai dengan dahi bersender di atas meja.
Lalu saya mengambil sebuah sendok kecil yang biasanya di sediakan di tempat pembuatan kopi/teh di dalam kamar. Lalu saya mengaduk ngaduk gelas yang berisi spermanya itu dan menyuapinya sendok demi sendok sampai habis bersih.
"Enak sayang..?" tanyaku.
"Iya Bu.. Enak sekalii.. Terima kasih Ibu.."
"Pinterr deh slave saya.. Ayo dijilatin sendoknya sampai bersih..!"
*****
Demikianlah para pembaca, sebagian dari cerita permainan saya dengan slave saya Anwar. Permainan ini selalu kami lakukan kira kira 1 minggu sekali tentunya dengan variasi yang berbeda beda. Setelah permainan selesai kami kembali ke dunia nyata kami masing masing.
Biasanya setelah permainan usai sekitar jam 7 malam kami ngobrol ngobrol sambil makan dari orderan room service, kami tidak ada kesulitan dalam berkomunikasi dan bahan pembicaraan kami bisa membahas apa saja seperti teman lama karib yang sudah lama tidak bertemu.
Kami mempunyai komitmen perjanjian untuk tidak saling jatuh cinta karena dia sudah mempunyai keluarga dan saya juga tidak mau mencari masalah, yang penting fantasi saya ini dapat tersalurkan tanpa komplikasi komplikasi yang mungkin dapat terjadi.
Bahkan sebagai bukti penyerahan dirinya kepada saya dan juga sebagai bukti dari kami bahwa kami tidak akan saling jatuh cinta, kami merencanakan untuk meminjamkan badan budak saya kepada wanita lain yang mungkin berminat untuk memakai dia sebagai budaknya untuk sementara.
Apakah di antara pembaca ada yang berminat?
Tamat
03:57
Diperbudak seorang Nyonya
Aku adalah seorang mahasiswa semester akhir. Sejak berusia 16 tahun aku merasakan bahwa aku mempunyai perilaku seks yang menyimpang. Sebagai laki-laki, aku justru lebih suka untuk didominasi oleh wanita. Aku sering membayangkan suatu keadaan dimana aku dicaci, dihina, direndahkan, dan disiksa secara sadis oleh seorang wanita.
Saat aku menginjak semester delapan, aku mendaftarkan diri pada sebuah situs BDSM dan berhasil berkenalan dengan seorang wanita berusia 30 tahun yang suka menjadi dominan. Dia adalah Nyonya Hana. Perkenalan awal lewat internet kemudian berlanjut ke pertemuan kami. Ternyata Nuonya Hana adalah seorang manajer personalia di sebuah hotel. Dia tidak cantik, namun berpenampilan anggun. Singkat cerita, kami pun saling cocok.
Sejak awal bulan Juli, kami pun sepakat untuk menjadi pasangan majikan dan budak. Aku berkewajiban untuk melayani Nyonya Hana kapan pun dia menginginkanku. Aku juga harus mematuhi seluruh perintah-perintahnya dan menerima semua yang dilakukannya kepadaku. Termasuk hinaan dan siksaan. Sedangkan Nyonya Hana, dia memiliki hak penuh untuk melakukan apa saja yang disukainya kepadaku. Aku tidak lebih dari barang-barang miliknya yang lain. Dan aku tidak menerima imbalan apapun. Imbalanku adalah kesenanganku.
Aku akan bercerita sebagian pengalamanku selama jadi budak Nyonya Hana. Saat itu hari sudah malam. Sekitar pukul delapan malam. Telepon di kontrakanku berdering. Kebetulan aku yang mengangkatnya. Ternyata itu adalah Nyonya Hana. Dia memintaku untuk datang ke alamat villa sewaannya dan melayaninya malam itu juga. Tentu saja aku tidak dapat menolak. Dia adalah majikanku. Dan aku pun berangkat malam itu.
Nyonya Hana sudah menungguku saat aku tiba di villa. Dia berpakaian serba hitam yang mengkilap. Tanpa basa-basi lagi, dia lalu menyuruhku untuk melepas seluruh bajuku. Aku menurutinya. Kini tubuhku telanjang bulat tanpa selembar kain pun. Nyonya Hana lalu mendekatiku. Dia melumat bibirku dan meremas kemaluanku. Penisku pun mengeras. Nyonya Hana meraba seluruh tubuhku dan membuatku semakin terangsang.
Di tengah permainan itu, dia berhenti. Nyonya Hana lalu menyuruhku untuk memasuki ruang belakang. Di sana ternyata sudah terdapat tali panjang yang menggantung pada kayu besar yang melintang di tengah ruangan. Dia lalu mengikat kedua tanganku pada tali itu. Kini aku sama sekali tidak berdaya. Kedua tanganku diikat menyatu ke atas pada tali itu dan aku pun terpaksa harus berjinjit pada kedua ujung kakiku karena tali itu ternyata terlalu tinggi.
Nyonya Hana mengelilingi aku sebentar, lalu dia pergi ke arah meja dan mengambil sebuah cambuk berwarna hitam. Semenit kemudian, dia sudah berdiri di belakangku.
Dia lalu mendekatiku dan berkata, "Hei budak, kamu adalah milikku dan saat ini aku ingin sekali menyiksa kamu. Kamu tahu? Aku sangat puas jika melihat kamu berteriak kesakitan."
Aku diam saja. Aku hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi berikutnya.
Tiba-tiba. Tar! Tar! Dua cambukan menghajar punggungku dengan keras. Aku berteriak keras. Rasanya sakit sekali. Nyonya Hana tertawa puas melihat tubuh bugilku menggeliat menahan sakit yang amat sangat. Dia tidak berhenti sampai di situ. Nyonya Hana terus mencambukku sampai sekitar 200 cambukan. Punggungku terasa amat sakit dan panas karena sobek dan mengeluarkan darah. Tubuhku sudah basah dengan keringat dan terasa lemas. Tapi anehnya, aku menikmatinya. Inilah yang kuimpikan sejak dulu, disiksa dan direndahkan oleh wanita.
Setelah puas dengan cambukan, dia melepas ikatan tanganku. Dia lalu memindahkanku ke kamar tidur. Dia lalu mengikat kedua tangan dan kakiku dengan tali ke masing-masing sudut tempat tidur. Kini aku telentang dalam keadaan terikat dan telanjang seperti huruf X.
Nyonya Hana lalu meraih kotak tempat dia menyimpan alat-alat penyiksaan dan mengambil dua buah jepitan buaya yang bergigi tajam dan terkenal kuat cengkeramannya. Aku menunggu dengan hati berdebar-debar. Seperti yang kuduga, Nyonya Hana meraih putingku dan menjepitkan jepitan buaya itu hingga daging kedua putingku terjepit erat. Rasanya sakit sekali. Aku berteriak dan meronta. Tapi tubuhku terikat erat oleh tali di tempat tidur. Aku tidak berdaya.
Selang beberapa menit, aku pun kembali tenang. Nyonya Hana kembali mendekatiku, dan kali ini dia membawa sebuah lilin merah dengan diameter besar, seperti yang sering dipakai di kuil-kuil. Dia lalu menyalakan lilin itu. Setelah lilin terbakar, Nyonya Hana lalu memiringkan lilin yang dibawanya dan meneteskan lilin panas yang meleleh di atas tubuhku yang telanjang. Satu tetesan pertama mendarat tepat di atas putingku yang terjepit oleh jepitan buaya. Aku berteriak histeris. Rasanya seperti di neraka. Tetapi Nyonya Hana hanya tersenyum.
Dia lalu meneteskan lilin itu ke bagian-bagian tubuhku yang sensitif. Dada, perut dan paha tidak luput dari tetesan cairan lilin panas. Tubuhku semakin berkeringat dan menggelinjang menahan panas. Aku merasakan siksaan yang amat sakit. Aku hanya dapat mengerang kesakitan dan memohon belas kasihan Nyonya Hana.
Setelah sebagian besar tubuhku tertutup lilin panas yang mengering, Nyonya Hana kemudian melepaskan ikatan kedua kakiku. Dia lalu mengangkat kedua kakiku ke atas dan kemudian ditekan dalam keadaan mengangkang ke arah dada. Kini aku hampir dapat mencium kedua lututku. Nyonya Hana lalu mengikat kedua kakiku dengan tali pada ujung sudut-sudut tempat tidur yang digunakan untuk mengikat kedua tanganku. Kini aku semakin tidak berdaya. Selain ikatan tubuhku semakin kuat, aku juga telah banyak kehilangan tenaga.
Dalam keadaan seperti ini, kedua kakiku dalam keadaan mengangkang ke atas dan pantatku pun tepat berhadapan dengan Nyonya Hana. Dia kembali menyalakan lilin. Saat itu aku sudah mulai ketakutan.
"Ampun, Nyonya.., ampun. Tolong, ampuni saya. Jangan siksa saya lagi, Nyonya..!" aku merintih memohon belas kasihan Nyonya Hana.
Dia hanya tersenyum.
Nyonya Hana lalu memiringkan lilin yang tadi dinyalakannya ke arah pantatku yang terbuka. Tes.. Tes.. Tes. Sekian banyak tetes lilin mengalir deras di daerah pantatku. Aku berteriak sekuat-kuatnya untuk menahan sakit. Tidak hanya sampai di situ saja siksaan yang kualami. Pada tetesan yang entah ke berapa puluh kalinya, Nyonya Hana kemudian mengarahkan lilinnya ke anusku. Tidak dapat dielak lagi, cairan lilin panas itu menghujani daerah anusku dan sebagian masuk ke lubang anus.
Kali ini aku tidak hanya berteriak tapi juga membentur-benturkan pantatku ke tempat tidur untuk menahan sakit. Nyonya Hana tertawa terbahak-bahak melihatku kesakitan dalam keadaan telanjang dan terikat tidak berdaya. Aku tidak lebih dari kelinci percobaan Nyonya Hana.
Ternyata Nyonya Hana belum puas. Dia masih kembali memiringkan lilinnya ke arah tubuhku. Kali ini sasarannya adalah kemaluanku. Tanpa basa-basi lagi Nyonya Hana meneteskan lilin-lilin panas bertubi-tubi ke arah penisku. Aku kembali berteriak kesakitan. Badanku bergetar dan aku merasa ingin pingsan. Nyonya Hana tertawa penuh kemenangan.
Dia lalu mendekati wajahku dan berkata, "Rasakan, budak..!"
Sedetik kemudian, kedua tangan Nyonya Hana menarik jepitan buaya di kedua putingku dengan tarikan keras dan panjang. Aku benar-benar berteriak histeris. Malam itu aku disiksa dengan cara-cara yang teramat sadis dan keji. Setelah puas menyiksaku dengan sadis, Nyonya Hana melepaskan ikatanku dan juga jepitan buaya di putingku. Rasanya seperti diiris dengan pisau. Kedua putingku terasa sakit dan mengeluarkan darah.
Nyonya Hana kemudian memakaikan sebuah kalung anjing di leherku dan menyuruhku untuk berjalan merangkak mengikutinya seperti seekor anjing. Dia ternyata membawaku ke halaman belakang. Di situ terdapat sebuah kandang anjing yang kosong. Nyonya Hana meyuruhku untuk masuk ke dalamnya. Aku menuruti perintahnya. Dia lalu menutup pintu kandang dan menguncinya.
Nyonya Hana lalu berkata, "Nah, budak, kamu sekarang bisa tidur dulu. Aku ada janji malam ini dengan seorang pria yang jantan dan macho. Dia benar-benar cowok idaman. Setidaknya tidak seperti kamu. Bagiku, kamu adalah budak belian yang hina yang tak lebih dari seekor anjing. Nah, sekarang tidurlah seperti seekor anjing..!"
Nyonya Hana kemudian meninggalkanku sendirian di kandang anjing. Dia pergi ke arah kota untuk minum-minum di kafe. Sementara itu, tubuhku menjadi sasaran nyamuk-nyamuk kelaparan. Aku benar-benar diperlakukan seperti budak malam itu. Dicaci, dihina, direndahkan dan disiksa secara sadis oleh majikanku. Dan kini aku diperlakukan tidak lebih dari seekor binatang. Untungnya, malam itu aku dapat juga tidur walaupun hari sudah menjelang pagi.
Keesokan harinya, aku dibangunkan secara kasar oleh Nyonya Hana pagi-pagi sekali. Mungkin sekitar pukul enam pagi. Tubuhku masih terasa sakit dan penat karena siksaan semalam. Tapi bagaimanapun juga aku berusaha untuk bangun. Aku tidak berani untuk melawan majikanku. Aku kemudian diberinya pakaian yang pantas dan dipaksa untuk masuk ke mobil. Kami kemudian pergi ke arah luar kota.
Sekitar setengah jam perjalanan, kami melewati jalan raya kecil yang di kanan kirinya masih merupakan hutan, walaupun bukan hutan liar. Tiba-tiba Nyonya Hana membelokkan mobilnya ke kiri dan masuk ke sebuah jalan tanah. Dia baru berhenti setelah kami tidak terlihat dari arah jalan raya karena terlindung pepohonan.
Nyonya Hana lalu menyuruhku turun. Dia lalu memerintahkanku untuk melepaskan seluruh pakainku. Aku tidak dapat menolak. Kini aku pun kembali telanjang bulat bersama Nyonya Hana di tengah hutan. Nyonya Hana kemudian menyuruhku untuk mengikutinya menuju ke sebuah sungai yang ada di situ. Dia kemudian memerintahkan aku untuk mengotori seluruh badanku dengan lumpur sungai yang ada di situ. Aku pun melakukannya. Nyonya Hana melihatku dengan tersenyum puas. Aku melumuri seluruh badanku dengan lumpur termasuk wajahku. Setelah selesai, Nyonya Hana kemudian mengacak-acak rambutku, sehingga penampilanku seperti orang gila saat itu.
Tidak berhenti sampai di situ, Nyonya Hana lalu memberiku tulang ayam goreng yang sudah sedikit dagingnya. Dia lalu mengatakan padaku bahwa dia akan membawa pergi pakaianku dan menungguku di seberang hutan yang lain yang telah ditunjukkannya padaku melalui peta. Jaraknya kurang lebih lima kilometer. Untuk mencapai tempat itu, aku harus berjalan melalui pinggir jalan raya dalam keadaan telanjang dan sambil memakan tulangan ayam. Aku benar-benar merasa direndahkan saat itu. Tapi sekali lagi, aku justru menikmatinya.
Tidak berapa lama, Nyonya Hana benar-benar meninggalkanku sendirian di dalam hutan. Setelah Nyonya Hana pergi, aku pun mulai berjalan ke arah jalan raya. Sampai di batas pepohonan yang menutupiku dengan jalan raya kecil itu, aku mulai ragu. Meskipun bukan jalan raya besar, jalan raya itu cukup ramai dengan kendaraan yang lalu lalang. Tetapi aku juga tidak tahu jalan lain untuk menuju tempat Nyonya Hana menunggu selain melalui jalan itu. Untuk berjalan melalui hutan, aku tidak berani mengambil resiko. Bisa-bisa aku tersesat karena tidak tahu arah sama sekali. Aku juga tidak dapat terus-terusan tinggal diam di situ karena aku tidak punya pakaian selembar pun. Bagaimanapun juga aku harus menemui Nyonya Hana di seberang hutan.
Akhirnya, aku nekat juga. Pelan-pelan aku keluar dari pepohonan saat jalan raya sepi. Tetapi, itu tidak berlangsung lama. Sebentar kemudian sebuah mobil pick up yang bagian belakangnya penuh dengan penumpang terlihat dari jauh. Setelah dekat dan melihatku, mereka bersorak-sorak ramai mengejekku dengan kata-kata kotor. Ternyata, di bagian belakang mobil itu juga ada beberapa gadis yang ikut menumpang. Tanpa diduga, si sopir memperlambat laju mobilnya di dekatku untuk memberikan kesempatan kepada teman-temannya mengejekku dan mengolokku di depan para gadis itu.
Jarakku dengan mobil itu hanya sekitar 3 meter karena memang jalan raya kecil itu tidak punya bahu jalan yang cukup lebar. Gadis-gadis di situ menjerit menahan malu. Tetapi aku yakin bahwa mereka sudah melihat ke arahku. Aku benar-benar merasa sangat rendah saat itu. Aku diolok-olok di depan umum dalam keadaan bugil dan kotor. Akhirnya, mereka berlalu juga.
Kejadian seperti itu berulang terus sepanjang aku menempuh perjalananku. Aku dilecehkan dan dicemooh oleh orang-orang. Aku terpaksa harus berjalan dalam keadaan telanjang bulat dan tubuh penuh dengan kotoran. Wanita-wanita yang kebetulan melihatku, tersenyum menahan malu. Tapi kemudian mereka juga berbisik-bisik dan tertawa menghinaku. Aku hampir-hampir tidak kuat menahan pelecehan itu. Tapi aku tidak punya pilihan lain selain kembali kepada Nyonya Hana. Kalau tidak, aku akan ditinggalkan selamanya di hutan tanpa pakaian. Cemoohan kepada diriku harus kutahan selama jarak lima kilometer.
Setelah berjalan sekian lama, akhirnya aku sampai juga ke sudut hutan yang sepi yang telah di tentukan Nyonya Hana. Dia menungguku di sana sambil tertawa terbahak-bahak melihatku datang. Dia berdiri berkacak pinggang penuh kemenangan. Setelah puas menatap keadaanku, Nyonya Hana tidak memberiku pakaian, tetapi langsung menyuruhku untuk masuk ke mobil dan membawaku kembali ke villa. Untungnya, kaca mobil Nyonya Hana sangat gelap, sehingga tubuh telanjangku tidak akan kelihatan dari luar.
Kami sampai di villa sudah siang. Mungkin sekitar pukul setengah dua belas. Saat itu matahari bersinar terik tanpa awan sedikit pun yang menutupinya. Hari itu menjadi siang yang sangat panas.
Nyonya Hana kemudian membawaku ke halaman belakang villa. Di sana terdapat sebuah tiang melengkung berbentuk huruf U terbalik yang lebih tinggi dariku. Tanpa memberiku kesempatan untuk beristirahat, Nyonya Hana langsung mengambil tali dan mengikat kedua tanganku di puncak tiang seperti keadaan tadi malam. Kedua tanganku terikat ke atas dan kakiku pun sedikit terangkat ke atas, sehingga aku hanya dapat bertumpu pada ujung jari-jari kaki.
Nyonya Hana lalu mengambil cambuk dan mencambuk tubuhku sekitar 30 cambukan keras. Aku hanya dapat berteriak kesakitan dan memohon ampun pada Nyonya Hana. Tapi dia tetap tidak perduli. Punggungku kembali terasa sakit karena luka cambukan semalam belum sembuh. Tubuhku penuh dengan keringat karena sinar matahari yang amat panas.
Setelah puas mencambukku, Nyonya Hana meninggalkanku begitu saja dijemur di bawah terik matahari yang menyengat. Tubuhku terasa sangat lemas. Mataku sudah berkunang-kunang. Yang kuingat, aku belum diberi makan oleh Nyonya Hana sejak penyiksaan dimulai tadi malam. Tubuhku yang kotor dan bugil dibakar sinar matahari sepanjang siang itu. Keringatku membasahi tubuhku dengan deras membuatku semakin lemas.
Sementara itu, punggungku terasa amat sakit akibat cambukan dan bagian depan tubuhku dan daerah sekitar kemaluanku masih memerah akibat siksaan panas lilin tadi malam. Aku benar-benar merasa seperti di neraka. Aku hanya ingat aku dijemur lama sekali. Akhirnya aku tidak kuat. Aku pingsan di tiang siksaan.
Ketika aku sadar, aku sudah berada di dalam villa. Hari sudah sore. Nyonya Hana ada di depanku membawa makanan. Aku sedikit gembira karena tubuhku sudah sangat lemas. Nyonya Hana kemudian memberiku makan saat itu. Namun tentu saja aku tidak dapat makan seperti orang biasa. Aku adalah seorang budak.
Nyonya Hana menaruh makanan yang dibawanya di mangkuk makanan anjing dan menyuruhku untuk makan dalam keadaan merangkak dan hanya boleh menggunakan mulut seperti layaknya seekor anjing. Harga diriku benar-benar diinjak-injak. Aku tahu bahwa anjing pun masih mendapatkan perlakuan yang lebih baik. Setidaknya, anjing masih diberikan makanan secara teratur dan disayang oleh majikannya. Sedangkan aku, jatah makanku saja terlambat dan aku pun selalu disiksa secara sadis oleh majikanku. Nyonya Hana benar-benar menempatkanku dalam posisi yang amat rendah. Bahkan lebih rendah dari anjing piaraannya.
Setelah makan, aku kembali dibimbing oleh Nyonya Hana menuju kamar mandi. Di sana tangan dan kakiku diikat dengan tali, kemudian pintu kamar mandi dikunci oleh Nyonya Hana. Setelah itu, Nyonya Hana pergi entah kemana. Aku sangat capek saat itu. Aku langsung tertidur dan baru dibangunkan oleh Nyonya Hana dini hari keesokannya. Nyonya Hana mengatakan bahwa sewa villa telah habis dan aku harus meninggalkan villa sebelum jam tujuh pagi. Setelah itu, Nyonya Hana langsung pergi meninggalkanku begitu saja yang masih telanjang bulat dan kotor seperti sampah.
Nyonya Hana akan datang lagi saat dia memerlukanku untuk dimaki dan disiksa secara sadis. Diperlakukan seperti budak dan direndahkan seperti anjing. Tapi aku tidak dapat menolak. Aku harus patuh padanya. Karena Nyonya Hana adalah majikanku dan aku adalah 'BUDAK'-nya.
TAMAT
Saat aku menginjak semester delapan, aku mendaftarkan diri pada sebuah situs BDSM dan berhasil berkenalan dengan seorang wanita berusia 30 tahun yang suka menjadi dominan. Dia adalah Nyonya Hana. Perkenalan awal lewat internet kemudian berlanjut ke pertemuan kami. Ternyata Nuonya Hana adalah seorang manajer personalia di sebuah hotel. Dia tidak cantik, namun berpenampilan anggun. Singkat cerita, kami pun saling cocok.
Sejak awal bulan Juli, kami pun sepakat untuk menjadi pasangan majikan dan budak. Aku berkewajiban untuk melayani Nyonya Hana kapan pun dia menginginkanku. Aku juga harus mematuhi seluruh perintah-perintahnya dan menerima semua yang dilakukannya kepadaku. Termasuk hinaan dan siksaan. Sedangkan Nyonya Hana, dia memiliki hak penuh untuk melakukan apa saja yang disukainya kepadaku. Aku tidak lebih dari barang-barang miliknya yang lain. Dan aku tidak menerima imbalan apapun. Imbalanku adalah kesenanganku.
Aku akan bercerita sebagian pengalamanku selama jadi budak Nyonya Hana. Saat itu hari sudah malam. Sekitar pukul delapan malam. Telepon di kontrakanku berdering. Kebetulan aku yang mengangkatnya. Ternyata itu adalah Nyonya Hana. Dia memintaku untuk datang ke alamat villa sewaannya dan melayaninya malam itu juga. Tentu saja aku tidak dapat menolak. Dia adalah majikanku. Dan aku pun berangkat malam itu.
Nyonya Hana sudah menungguku saat aku tiba di villa. Dia berpakaian serba hitam yang mengkilap. Tanpa basa-basi lagi, dia lalu menyuruhku untuk melepas seluruh bajuku. Aku menurutinya. Kini tubuhku telanjang bulat tanpa selembar kain pun. Nyonya Hana lalu mendekatiku. Dia melumat bibirku dan meremas kemaluanku. Penisku pun mengeras. Nyonya Hana meraba seluruh tubuhku dan membuatku semakin terangsang.
Di tengah permainan itu, dia berhenti. Nyonya Hana lalu menyuruhku untuk memasuki ruang belakang. Di sana ternyata sudah terdapat tali panjang yang menggantung pada kayu besar yang melintang di tengah ruangan. Dia lalu mengikat kedua tanganku pada tali itu. Kini aku sama sekali tidak berdaya. Kedua tanganku diikat menyatu ke atas pada tali itu dan aku pun terpaksa harus berjinjit pada kedua ujung kakiku karena tali itu ternyata terlalu tinggi.
Nyonya Hana mengelilingi aku sebentar, lalu dia pergi ke arah meja dan mengambil sebuah cambuk berwarna hitam. Semenit kemudian, dia sudah berdiri di belakangku.
Dia lalu mendekatiku dan berkata, "Hei budak, kamu adalah milikku dan saat ini aku ingin sekali menyiksa kamu. Kamu tahu? Aku sangat puas jika melihat kamu berteriak kesakitan."
Aku diam saja. Aku hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi berikutnya.
Tiba-tiba. Tar! Tar! Dua cambukan menghajar punggungku dengan keras. Aku berteriak keras. Rasanya sakit sekali. Nyonya Hana tertawa puas melihat tubuh bugilku menggeliat menahan sakit yang amat sangat. Dia tidak berhenti sampai di situ. Nyonya Hana terus mencambukku sampai sekitar 200 cambukan. Punggungku terasa amat sakit dan panas karena sobek dan mengeluarkan darah. Tubuhku sudah basah dengan keringat dan terasa lemas. Tapi anehnya, aku menikmatinya. Inilah yang kuimpikan sejak dulu, disiksa dan direndahkan oleh wanita.
Setelah puas dengan cambukan, dia melepas ikatan tanganku. Dia lalu memindahkanku ke kamar tidur. Dia lalu mengikat kedua tangan dan kakiku dengan tali ke masing-masing sudut tempat tidur. Kini aku telentang dalam keadaan terikat dan telanjang seperti huruf X.
Nyonya Hana lalu meraih kotak tempat dia menyimpan alat-alat penyiksaan dan mengambil dua buah jepitan buaya yang bergigi tajam dan terkenal kuat cengkeramannya. Aku menunggu dengan hati berdebar-debar. Seperti yang kuduga, Nyonya Hana meraih putingku dan menjepitkan jepitan buaya itu hingga daging kedua putingku terjepit erat. Rasanya sakit sekali. Aku berteriak dan meronta. Tapi tubuhku terikat erat oleh tali di tempat tidur. Aku tidak berdaya.
Selang beberapa menit, aku pun kembali tenang. Nyonya Hana kembali mendekatiku, dan kali ini dia membawa sebuah lilin merah dengan diameter besar, seperti yang sering dipakai di kuil-kuil. Dia lalu menyalakan lilin itu. Setelah lilin terbakar, Nyonya Hana lalu memiringkan lilin yang dibawanya dan meneteskan lilin panas yang meleleh di atas tubuhku yang telanjang. Satu tetesan pertama mendarat tepat di atas putingku yang terjepit oleh jepitan buaya. Aku berteriak histeris. Rasanya seperti di neraka. Tetapi Nyonya Hana hanya tersenyum.
Dia lalu meneteskan lilin itu ke bagian-bagian tubuhku yang sensitif. Dada, perut dan paha tidak luput dari tetesan cairan lilin panas. Tubuhku semakin berkeringat dan menggelinjang menahan panas. Aku merasakan siksaan yang amat sakit. Aku hanya dapat mengerang kesakitan dan memohon belas kasihan Nyonya Hana.
Setelah sebagian besar tubuhku tertutup lilin panas yang mengering, Nyonya Hana kemudian melepaskan ikatan kedua kakiku. Dia lalu mengangkat kedua kakiku ke atas dan kemudian ditekan dalam keadaan mengangkang ke arah dada. Kini aku hampir dapat mencium kedua lututku. Nyonya Hana lalu mengikat kedua kakiku dengan tali pada ujung sudut-sudut tempat tidur yang digunakan untuk mengikat kedua tanganku. Kini aku semakin tidak berdaya. Selain ikatan tubuhku semakin kuat, aku juga telah banyak kehilangan tenaga.
Dalam keadaan seperti ini, kedua kakiku dalam keadaan mengangkang ke atas dan pantatku pun tepat berhadapan dengan Nyonya Hana. Dia kembali menyalakan lilin. Saat itu aku sudah mulai ketakutan.
"Ampun, Nyonya.., ampun. Tolong, ampuni saya. Jangan siksa saya lagi, Nyonya..!" aku merintih memohon belas kasihan Nyonya Hana.
Dia hanya tersenyum.
Nyonya Hana lalu memiringkan lilin yang tadi dinyalakannya ke arah pantatku yang terbuka. Tes.. Tes.. Tes. Sekian banyak tetes lilin mengalir deras di daerah pantatku. Aku berteriak sekuat-kuatnya untuk menahan sakit. Tidak hanya sampai di situ saja siksaan yang kualami. Pada tetesan yang entah ke berapa puluh kalinya, Nyonya Hana kemudian mengarahkan lilinnya ke anusku. Tidak dapat dielak lagi, cairan lilin panas itu menghujani daerah anusku dan sebagian masuk ke lubang anus.
Kali ini aku tidak hanya berteriak tapi juga membentur-benturkan pantatku ke tempat tidur untuk menahan sakit. Nyonya Hana tertawa terbahak-bahak melihatku kesakitan dalam keadaan telanjang dan terikat tidak berdaya. Aku tidak lebih dari kelinci percobaan Nyonya Hana.
Ternyata Nyonya Hana belum puas. Dia masih kembali memiringkan lilinnya ke arah tubuhku. Kali ini sasarannya adalah kemaluanku. Tanpa basa-basi lagi Nyonya Hana meneteskan lilin-lilin panas bertubi-tubi ke arah penisku. Aku kembali berteriak kesakitan. Badanku bergetar dan aku merasa ingin pingsan. Nyonya Hana tertawa penuh kemenangan.
Dia lalu mendekati wajahku dan berkata, "Rasakan, budak..!"
Sedetik kemudian, kedua tangan Nyonya Hana menarik jepitan buaya di kedua putingku dengan tarikan keras dan panjang. Aku benar-benar berteriak histeris. Malam itu aku disiksa dengan cara-cara yang teramat sadis dan keji. Setelah puas menyiksaku dengan sadis, Nyonya Hana melepaskan ikatanku dan juga jepitan buaya di putingku. Rasanya seperti diiris dengan pisau. Kedua putingku terasa sakit dan mengeluarkan darah.
Nyonya Hana kemudian memakaikan sebuah kalung anjing di leherku dan menyuruhku untuk berjalan merangkak mengikutinya seperti seekor anjing. Dia ternyata membawaku ke halaman belakang. Di situ terdapat sebuah kandang anjing yang kosong. Nyonya Hana meyuruhku untuk masuk ke dalamnya. Aku menuruti perintahnya. Dia lalu menutup pintu kandang dan menguncinya.
Nyonya Hana lalu berkata, "Nah, budak, kamu sekarang bisa tidur dulu. Aku ada janji malam ini dengan seorang pria yang jantan dan macho. Dia benar-benar cowok idaman. Setidaknya tidak seperti kamu. Bagiku, kamu adalah budak belian yang hina yang tak lebih dari seekor anjing. Nah, sekarang tidurlah seperti seekor anjing..!"
Nyonya Hana kemudian meninggalkanku sendirian di kandang anjing. Dia pergi ke arah kota untuk minum-minum di kafe. Sementara itu, tubuhku menjadi sasaran nyamuk-nyamuk kelaparan. Aku benar-benar diperlakukan seperti budak malam itu. Dicaci, dihina, direndahkan dan disiksa secara sadis oleh majikanku. Dan kini aku diperlakukan tidak lebih dari seekor binatang. Untungnya, malam itu aku dapat juga tidur walaupun hari sudah menjelang pagi.
Keesokan harinya, aku dibangunkan secara kasar oleh Nyonya Hana pagi-pagi sekali. Mungkin sekitar pukul enam pagi. Tubuhku masih terasa sakit dan penat karena siksaan semalam. Tapi bagaimanapun juga aku berusaha untuk bangun. Aku tidak berani untuk melawan majikanku. Aku kemudian diberinya pakaian yang pantas dan dipaksa untuk masuk ke mobil. Kami kemudian pergi ke arah luar kota.
Sekitar setengah jam perjalanan, kami melewati jalan raya kecil yang di kanan kirinya masih merupakan hutan, walaupun bukan hutan liar. Tiba-tiba Nyonya Hana membelokkan mobilnya ke kiri dan masuk ke sebuah jalan tanah. Dia baru berhenti setelah kami tidak terlihat dari arah jalan raya karena terlindung pepohonan.
Nyonya Hana lalu menyuruhku turun. Dia lalu memerintahkanku untuk melepaskan seluruh pakainku. Aku tidak dapat menolak. Kini aku pun kembali telanjang bulat bersama Nyonya Hana di tengah hutan. Nyonya Hana kemudian menyuruhku untuk mengikutinya menuju ke sebuah sungai yang ada di situ. Dia kemudian memerintahkan aku untuk mengotori seluruh badanku dengan lumpur sungai yang ada di situ. Aku pun melakukannya. Nyonya Hana melihatku dengan tersenyum puas. Aku melumuri seluruh badanku dengan lumpur termasuk wajahku. Setelah selesai, Nyonya Hana kemudian mengacak-acak rambutku, sehingga penampilanku seperti orang gila saat itu.
Tidak berhenti sampai di situ, Nyonya Hana lalu memberiku tulang ayam goreng yang sudah sedikit dagingnya. Dia lalu mengatakan padaku bahwa dia akan membawa pergi pakaianku dan menungguku di seberang hutan yang lain yang telah ditunjukkannya padaku melalui peta. Jaraknya kurang lebih lima kilometer. Untuk mencapai tempat itu, aku harus berjalan melalui pinggir jalan raya dalam keadaan telanjang dan sambil memakan tulangan ayam. Aku benar-benar merasa direndahkan saat itu. Tapi sekali lagi, aku justru menikmatinya.
Tidak berapa lama, Nyonya Hana benar-benar meninggalkanku sendirian di dalam hutan. Setelah Nyonya Hana pergi, aku pun mulai berjalan ke arah jalan raya. Sampai di batas pepohonan yang menutupiku dengan jalan raya kecil itu, aku mulai ragu. Meskipun bukan jalan raya besar, jalan raya itu cukup ramai dengan kendaraan yang lalu lalang. Tetapi aku juga tidak tahu jalan lain untuk menuju tempat Nyonya Hana menunggu selain melalui jalan itu. Untuk berjalan melalui hutan, aku tidak berani mengambil resiko. Bisa-bisa aku tersesat karena tidak tahu arah sama sekali. Aku juga tidak dapat terus-terusan tinggal diam di situ karena aku tidak punya pakaian selembar pun. Bagaimanapun juga aku harus menemui Nyonya Hana di seberang hutan.
Akhirnya, aku nekat juga. Pelan-pelan aku keluar dari pepohonan saat jalan raya sepi. Tetapi, itu tidak berlangsung lama. Sebentar kemudian sebuah mobil pick up yang bagian belakangnya penuh dengan penumpang terlihat dari jauh. Setelah dekat dan melihatku, mereka bersorak-sorak ramai mengejekku dengan kata-kata kotor. Ternyata, di bagian belakang mobil itu juga ada beberapa gadis yang ikut menumpang. Tanpa diduga, si sopir memperlambat laju mobilnya di dekatku untuk memberikan kesempatan kepada teman-temannya mengejekku dan mengolokku di depan para gadis itu.
Jarakku dengan mobil itu hanya sekitar 3 meter karena memang jalan raya kecil itu tidak punya bahu jalan yang cukup lebar. Gadis-gadis di situ menjerit menahan malu. Tetapi aku yakin bahwa mereka sudah melihat ke arahku. Aku benar-benar merasa sangat rendah saat itu. Aku diolok-olok di depan umum dalam keadaan bugil dan kotor. Akhirnya, mereka berlalu juga.
Kejadian seperti itu berulang terus sepanjang aku menempuh perjalananku. Aku dilecehkan dan dicemooh oleh orang-orang. Aku terpaksa harus berjalan dalam keadaan telanjang bulat dan tubuh penuh dengan kotoran. Wanita-wanita yang kebetulan melihatku, tersenyum menahan malu. Tapi kemudian mereka juga berbisik-bisik dan tertawa menghinaku. Aku hampir-hampir tidak kuat menahan pelecehan itu. Tapi aku tidak punya pilihan lain selain kembali kepada Nyonya Hana. Kalau tidak, aku akan ditinggalkan selamanya di hutan tanpa pakaian. Cemoohan kepada diriku harus kutahan selama jarak lima kilometer.
Setelah berjalan sekian lama, akhirnya aku sampai juga ke sudut hutan yang sepi yang telah di tentukan Nyonya Hana. Dia menungguku di sana sambil tertawa terbahak-bahak melihatku datang. Dia berdiri berkacak pinggang penuh kemenangan. Setelah puas menatap keadaanku, Nyonya Hana tidak memberiku pakaian, tetapi langsung menyuruhku untuk masuk ke mobil dan membawaku kembali ke villa. Untungnya, kaca mobil Nyonya Hana sangat gelap, sehingga tubuh telanjangku tidak akan kelihatan dari luar.
Kami sampai di villa sudah siang. Mungkin sekitar pukul setengah dua belas. Saat itu matahari bersinar terik tanpa awan sedikit pun yang menutupinya. Hari itu menjadi siang yang sangat panas.
Nyonya Hana kemudian membawaku ke halaman belakang villa. Di sana terdapat sebuah tiang melengkung berbentuk huruf U terbalik yang lebih tinggi dariku. Tanpa memberiku kesempatan untuk beristirahat, Nyonya Hana langsung mengambil tali dan mengikat kedua tanganku di puncak tiang seperti keadaan tadi malam. Kedua tanganku terikat ke atas dan kakiku pun sedikit terangkat ke atas, sehingga aku hanya dapat bertumpu pada ujung jari-jari kaki.
Nyonya Hana lalu mengambil cambuk dan mencambuk tubuhku sekitar 30 cambukan keras. Aku hanya dapat berteriak kesakitan dan memohon ampun pada Nyonya Hana. Tapi dia tetap tidak perduli. Punggungku kembali terasa sakit karena luka cambukan semalam belum sembuh. Tubuhku penuh dengan keringat karena sinar matahari yang amat panas.
Setelah puas mencambukku, Nyonya Hana meninggalkanku begitu saja dijemur di bawah terik matahari yang menyengat. Tubuhku terasa sangat lemas. Mataku sudah berkunang-kunang. Yang kuingat, aku belum diberi makan oleh Nyonya Hana sejak penyiksaan dimulai tadi malam. Tubuhku yang kotor dan bugil dibakar sinar matahari sepanjang siang itu. Keringatku membasahi tubuhku dengan deras membuatku semakin lemas.
Sementara itu, punggungku terasa amat sakit akibat cambukan dan bagian depan tubuhku dan daerah sekitar kemaluanku masih memerah akibat siksaan panas lilin tadi malam. Aku benar-benar merasa seperti di neraka. Aku hanya ingat aku dijemur lama sekali. Akhirnya aku tidak kuat. Aku pingsan di tiang siksaan.
Ketika aku sadar, aku sudah berada di dalam villa. Hari sudah sore. Nyonya Hana ada di depanku membawa makanan. Aku sedikit gembira karena tubuhku sudah sangat lemas. Nyonya Hana kemudian memberiku makan saat itu. Namun tentu saja aku tidak dapat makan seperti orang biasa. Aku adalah seorang budak.
Nyonya Hana menaruh makanan yang dibawanya di mangkuk makanan anjing dan menyuruhku untuk makan dalam keadaan merangkak dan hanya boleh menggunakan mulut seperti layaknya seekor anjing. Harga diriku benar-benar diinjak-injak. Aku tahu bahwa anjing pun masih mendapatkan perlakuan yang lebih baik. Setidaknya, anjing masih diberikan makanan secara teratur dan disayang oleh majikannya. Sedangkan aku, jatah makanku saja terlambat dan aku pun selalu disiksa secara sadis oleh majikanku. Nyonya Hana benar-benar menempatkanku dalam posisi yang amat rendah. Bahkan lebih rendah dari anjing piaraannya.
Setelah makan, aku kembali dibimbing oleh Nyonya Hana menuju kamar mandi. Di sana tangan dan kakiku diikat dengan tali, kemudian pintu kamar mandi dikunci oleh Nyonya Hana. Setelah itu, Nyonya Hana pergi entah kemana. Aku sangat capek saat itu. Aku langsung tertidur dan baru dibangunkan oleh Nyonya Hana dini hari keesokannya. Nyonya Hana mengatakan bahwa sewa villa telah habis dan aku harus meninggalkan villa sebelum jam tujuh pagi. Setelah itu, Nyonya Hana langsung pergi meninggalkanku begitu saja yang masih telanjang bulat dan kotor seperti sampah.
Nyonya Hana akan datang lagi saat dia memerlukanku untuk dimaki dan disiksa secara sadis. Diperlakukan seperti budak dan direndahkan seperti anjing. Tapi aku tidak dapat menolak. Aku harus patuh padanya. Karena Nyonya Hana adalah majikanku dan aku adalah 'BUDAK'-nya.
TAMAT
03:56
My Teacher - 1
Aku sudah memperhatikannya semenjak aku duduk di kelas 1 SMU. Ibu Anna, guru biologi kelas 2. Diantara guru-guru disekolah ini tidak ada yang bisa menandingi kecantikannya. Dalam hati aku menyukai Ibu guru ini. Sering aku menjadi salah tingkah jika tak sengaja berpapasan dengannya. Meskipun usianya menginjak 30 tahun namun hal itu tidak mengubah apa-apa pada dirinya. Ia tidak kalah di banding teman-teman sekelasku. Hal yang kunanti akhirnya tiba juga. Ini adalah pertama kalinya aku mendapatkan pelajaran biologi di kelas 2.
Aku menjadi gugup ketika tiba giliranku untuk memperkenalkan diriku padanya. Dan tak lama kemudian dia mulai memberikan pelajarannya. Aku memang tidak pernah melakukan hubungan sex sebelumnya, namun aku sudah keranjingan film porno semenjak kelas 1 SMP. Penisku mulai ereksi karena fantasi-fantasi pornoku, dan tentunya objekku adalah Ibu Anna. Ketika dia membelakangi kelas, aku membayangkan meremas payudaranya dari belakang, dan pada saat dia membungkuk untuk mengambil penghapus papan tulis aku membayangkan aku sedang melakukan doggie style dengannya.
2 jam pelajaran kulewati tanpa mendapat apa-apa. Aku sibuk dengan fantasiku pada Ibu Anna, apalagi semalam aku menonton film porno yang pada salah satu adegannya si wanita mengoral penis si pria sampai berejakulasi didalam mulutnya, kemudian dengan rakus si wanita menelan sperma pria itu. Bibir Ibu Anna yang bergerak-gerak menerangkan tentang organisme bersel satu kufantasikan sedang mengulum penisku sehingga hanya kelihatannya saja aku memperhatikan ucapannya, padahal pikiranku saat itu sedang liar. Aku yakin jika Ibu Anna bisa mengetahui pikiranku dia akan pingsan karena terkejut.
Selesai pelajaran biologi ada istirahat makan siang. Aku segera menuju ke kamar mandi pria "tempat keramatku". Kubuka ritsletingku, kukeluarkan penisku yang ereksi, kemudia kukocok dengan cepat, tak sampai 2 menit aku sudah berejakulasi. Setelah berejakulasi aku merasa pikiranku menjadi tenang, dan akupun menuju kantin sekolah untuk membeli makanan.
Berikutnya ada pelajaran kimia, kali ini aku masih bisa berkonsentrasi pada pelajaran karena guruku kali in Ibu Lina, usiannya sudah 50 tahun. Dengan cepat 2 jam pelajaran terlewati. Kini sudah saatnya untuk pulang. Namun aku tidak langsung pulang, melainkan aku meminjam catatan biologi milik temanku dan akupun kemudian menyalinnya untuk mengejar ketinggalanku tadi. Aku melihat jam dinding sudah menunjukan jam 2:30 siang. Akupun membereskan buku-bukuku dan bersiap pulang. Akan kulanjutkan dirumah pikirku.
Aku berjalan keluar dari kelasku. Tak sampai beberapa meter aku menghentikan langkahku. Di sebelah kelasku adalah kelas 2c, tidak ada seorangpun disana sedangkan lampunya masih dinyalakan, namun bukan itu yang menarik perhatianku. Tas berwarna hitam yang terletaK diatas meja guru, aku yakin itu adalah milik Ibu Anna. Apa dia lupa tasnya? Tanyaku dalam hati. Dengan perlahan aku memasuki kelas itu, kulihat sekeliling untuk memastikan tidak ada seorang pun disana.
Jantungku berdebar kencang ketika aku dengan perlahan membuka tas itu. Seakan tidak percaya pada apa yang ada ditanganku. Itu adalah celana dalam wanita berwarna putih. Aku melihatnya lebih jelas, celana dalam itu nampaknya sedikit lembab, dan segera ada bau aneh yang tercium olehku. Kudekatkan hidungku ke celana dalam itu untuk menghirup lebih bayak bau yang keluar dari celana dalam itu.
"Ngapain kamu disini!"
Dengan cepat aku membalikkan tubuhku. Jantungku seakan berhenti melihat Ibu Anna berdiri dihadapanku melotot padaku. Karena terkejutnya tanganku masih menggenggam celana dalam itu. Mulutku terbuka namun tidak dapat berkata apa-apa. Ibu Anna melihat tanganku, dia tampak kaget.
"Kamu anak kelas 2b?" tanyanya padaku dengan nada membentak.
"Iya Bu," jawabku dengan suara tercekat.
Ibu Anna lalu berjalan mendekatiku dan dengan cepat merebut celana dalam ditanganku, lalu mengambil tasnya dan memasukKan celana dalam itu ke dalam tasnya. Aku terdiam tertunduk, tak tahu apa yang harus aku perbuat.
"Kamu benar-benar kurang ajar," katanya padaku.
Aku terdiam tidak berani membantahnya.
"PPLAAKK!"
Sebuah tamparan keras mendarat dipipiku. Rasanya panas seperti terbakar.
"Maaf Bu," ujarku dengan pelan.
"Kamu bisa dikeluarkan dari sekolah ini kalau saya adukan masalah ini kepada kepala sekolah," ujarnya padaku.
Aku masih terdiam. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku perbuat.
"Ikut saya ke kantor," kata Ibu Anna padaku.
"Jangan Bu.. Saya minta maaf Bu," ujarku padanya.
Dia tidak menghiraukan perkataanku. Tangannya menarik tanganku.
"Jangan Bu, jangan laporkan saya.. Hukum saja saya Bu," kataku padanya.
"Dihukum? Kamu kira kamu cukup dihukum?" ujarnya dengan marah.
Aku terdiam, mataku sudah berkaca-kaca menahan air mata. Aku tidak ingin dilaporkan ke kepala sekolah. Pasti orang tuaku akan dipanggil kesekolah lalu diberitahu perbuatanku, terlebih lagi aku tidak ingin dikeluarkan dari sekolah.
"PPLLAAKK!!"
Kembali Ibu Anna menampar pipiku dengan keras. Kepalaku terasa berdenyut-denyut akibat tamparannya.
"JAWABB!!" teriak Ibu Anna di depan wajahku.
Tanpa bisa kutahan aku mulai menagis. Air mata mengalir deras dipipiku. Aku masih terdiam tertunduk sesaat, lalu.
"Tolong Bu jangan laporkan saya.. Saya mau dihukum apa saja Bu asal jangan laporkan saya," aku berkata sambil menagis terisak.
Kami terdiam sesaat.
"Kamu mau dihukum apa saja?" tanya Ibu Anna dengan pelan.
"I.. Iya Bu saya mau," ujarku dengan cepat melihat ada kesempatan.
Ibu Anna terdiam, seperti sedang berpikir.
"Besok jam 8 pagi datang ke sekolah, tunggu di depan pagar," ujarnya padaku.
"Baik Bu," jawabku tanpa berpikir panjang.
Ibu Anna segera berjalan keluar. Aku menarik nafas panjang, bersyukur tidak terjadi sesuatu yang kutakutkan. Aku terdiam sesaat dikelas mencoba menenangkan jantungku yang masih berdebar kencang. Sesudah itu aku beranjak pulang. Aku masih menyempatkan melihat parkiran. Tidak ada mobil Ibu Anna disana, berarti dia tidak melaporkan perbuatanku pada kepala sekolah. Dengan tenang aku melangkah pulang.
Aku terpaksa mengorbankan kegiatanku pada hari minggu pagi ini. Aku biasa bermain bola pada hari minggu pagi jam 8, namun tentu saja aku tidak akan melanggar janjiku pada Ibu Anna. Kurang sepuluh menit aku sudah menunggu dipagar sekolah. Aku mengenakan kemeja dan celana jeans berwarna biru tua. Semalaman aku susah tidur membayangkan apa kira-kira hukuman yang akan diberikan Ibu Anna padaku.
Aku berpikir mungkin aku akan dihukum menulis, atau menyalin buku catatan, atau yang lebih parah lagi aku dihukum membersihkan rumahnya. Aku masih bisa tersenyum membayangkan hal-hal itu. Aku merasa sudah sekitar 10 menit menunggu disitu. Dan benar saja tak lama kemudian aku melihat mobil katana perlahan berhenti di depanku. Aku tahu itu mobil Ibu Anna, namun aku tidak langsung menghampirinya. Lalu pintu mobil di bagian penumpang terbuka, seakan menyuruhku masuk, akupun menghampirinya. Aku melihat Ibu Anna duduk dikemudi.
"Naik," perintahnya.
Kami sama sekali tidak bicara apa-apa, sesekali aku mencuri lihat ke arah Ibu Anna. Dia tampak lain sekali hari ini pikirku. Ibu Anna mengenakan kaos berwarna kuning dan celana pendek berwarna coklat. Berbeda sekali dengan waktu biasa mengajar dimana dia mengenakan setelah jas dan rok formal.
"Nama kamu Indra?" tanya Ibu Anna dengan tiba-tiba.
"Iya Bu," jawabku.
Lalu kami kembali terdiam. Tak lama kemudian kami sampai di depan sebuah rumah. Dia menghentikan mobilnya lalu turun. Aku juga segera mengikutinya. Tanpa bicara Ibu Anna membuka pintu rumah itu lalu menyuruhku masuk. Dengan tidak berbicara aku masuk mengikutinya. Ibu Anna memberiku isyarat agar aku mengikutinya. Dia membawaku masuk kedapur.
"Cuci piring-piring itu, awas kalau sampai ada yang pecah," Ibu Anna berkata demikian sambil menunjuk ketumpukan piring kotor.
"Saya beri kamu waktu setengah jam, harus sudah selesai," ujarnya lagi.
"Baik Bu," jawabku.
"Oh ya.. Pakai ini," kata Bu Anna sambil melemparkan sebuah kain kepadaku.
Aku menangkapnya, tampaknya itu sebuah celemek. Tanpa bicara aku segera memakainya, sebenarnya aku enggan karena hal itu membuatku malu. Aku terlihat seperti pelayan, namun aku tidak berani berkata apapun, takut nanti Ibu Anna berubah pikiran. Hukuman ini tidak seberapa jika di bandingkan dikeluarkan dari sekolah pikirku. Ibu Anna lalu membantu mengikatkan tali dipunggunku. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh pada saat Ibu Anna tersenyum melihat aku mengenakan celemek itu. Dia lalu beranjak pergi meninggalkanku. Dan langsung saja aku memulai pekerjaanku.
Ibu Anna tampaknya keluar dari rumah, karena aku mendengar suara pintu yang dibuka, tapi nampaknya ia tidak menggunakan mobilnya. Aku segera menghentikan pikiranku dan mulai mengerjakan mencuci piring-piring kotor itu. Sebenarnya piring-piring itu tidak banyak, namun karena aku tidak pernah mencuci piring sebelumnya ditambah aku ingin Ibu Anna puas akan pekerjaanku makan membutuhkan waktu yang cukup lama juga untuk menyelesaikannya. Ketika tinggal satu piring lagi tersisa aku mendengar suara pintu dibuka, lalu aku juga mendengar pintu itu dikunci. Agak heran juga aku akan perbuatan Ibu Anna. Aku mendengar langkah sepatu, ketika aku menoleh aku melihat Ibu Anna. Tampaknya ia sehabis olah raga. Keringat mengalir deras ditubuhnya, tangannya mengipas-ngipas wajahnya.
"Tinggal satu Bu," kataku padanya.
"Bagus," jawabnya
"Kalau sudah selesai kamu bilang pada Ibu ya," katanya dengan lembut.
Mendengar perkataanya aku makin semangat menyelesaikan pekerjaanku. Bahkan aku sempat berpikir yang tidak-tidak melihat Ibu Anna yang tubuhnya penuh keringat itu. Tak lama akupun menyelesaikannya. Aku berjalan menuju Ibu Anna yang sedang duduk di sofa sambil menonton acara TV.
"Sudah Bu," kataku padanya.
"Benar sudah semua?" tanyanya memastikan.
"Iya Bu," jawabku.
"Bagus, sini ikut Ibu," katanya padaku sambil berdiri.
Aku berjalan mengikuti dibelakangnya. Dia membawaku kekamar, sepertinya itu adalah kamarnya karena itu merupakan kamar satu-satunya di rumah ini. Tampaknya Ibu Anna tinggal sendirian dirumah ini. Aku segera berpikir yang tidak-tidak ketika memasuki ruangan itu. Tanpa kusadari penisku mulai menegang karena fantasiku. Ruang kamar tidur itu luas sekali, didalamnya ada kamar mandi yang pintunya hanya berupa kain plastik yang bisa digeser seperti diruang untuk mencoba baju di mal-mal.
Ada satu hal yang menarik perhatianku, ruangan ini tidak seperti ruangan wanita yang pada umunya rapi. Ruangan ini berantakan. Ada baju kotor dimana-mana. Aku berpikir pastilah aku disuruh membersihkan ruangan ini.
"Besok saya akan melaporkan perbuatan kamu pada kepala sekolah," kata Ibu Anna padaku.
Aku terkejut mendengar perkataannya. Aku menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
Bersambung . . . . .
Aku menjadi gugup ketika tiba giliranku untuk memperkenalkan diriku padanya. Dan tak lama kemudian dia mulai memberikan pelajarannya. Aku memang tidak pernah melakukan hubungan sex sebelumnya, namun aku sudah keranjingan film porno semenjak kelas 1 SMP. Penisku mulai ereksi karena fantasi-fantasi pornoku, dan tentunya objekku adalah Ibu Anna. Ketika dia membelakangi kelas, aku membayangkan meremas payudaranya dari belakang, dan pada saat dia membungkuk untuk mengambil penghapus papan tulis aku membayangkan aku sedang melakukan doggie style dengannya.
2 jam pelajaran kulewati tanpa mendapat apa-apa. Aku sibuk dengan fantasiku pada Ibu Anna, apalagi semalam aku menonton film porno yang pada salah satu adegannya si wanita mengoral penis si pria sampai berejakulasi didalam mulutnya, kemudian dengan rakus si wanita menelan sperma pria itu. Bibir Ibu Anna yang bergerak-gerak menerangkan tentang organisme bersel satu kufantasikan sedang mengulum penisku sehingga hanya kelihatannya saja aku memperhatikan ucapannya, padahal pikiranku saat itu sedang liar. Aku yakin jika Ibu Anna bisa mengetahui pikiranku dia akan pingsan karena terkejut.
Selesai pelajaran biologi ada istirahat makan siang. Aku segera menuju ke kamar mandi pria "tempat keramatku". Kubuka ritsletingku, kukeluarkan penisku yang ereksi, kemudia kukocok dengan cepat, tak sampai 2 menit aku sudah berejakulasi. Setelah berejakulasi aku merasa pikiranku menjadi tenang, dan akupun menuju kantin sekolah untuk membeli makanan.
Berikutnya ada pelajaran kimia, kali ini aku masih bisa berkonsentrasi pada pelajaran karena guruku kali in Ibu Lina, usiannya sudah 50 tahun. Dengan cepat 2 jam pelajaran terlewati. Kini sudah saatnya untuk pulang. Namun aku tidak langsung pulang, melainkan aku meminjam catatan biologi milik temanku dan akupun kemudian menyalinnya untuk mengejar ketinggalanku tadi. Aku melihat jam dinding sudah menunjukan jam 2:30 siang. Akupun membereskan buku-bukuku dan bersiap pulang. Akan kulanjutkan dirumah pikirku.
Aku berjalan keluar dari kelasku. Tak sampai beberapa meter aku menghentikan langkahku. Di sebelah kelasku adalah kelas 2c, tidak ada seorangpun disana sedangkan lampunya masih dinyalakan, namun bukan itu yang menarik perhatianku. Tas berwarna hitam yang terletaK diatas meja guru, aku yakin itu adalah milik Ibu Anna. Apa dia lupa tasnya? Tanyaku dalam hati. Dengan perlahan aku memasuki kelas itu, kulihat sekeliling untuk memastikan tidak ada seorang pun disana.
Jantungku berdebar kencang ketika aku dengan perlahan membuka tas itu. Seakan tidak percaya pada apa yang ada ditanganku. Itu adalah celana dalam wanita berwarna putih. Aku melihatnya lebih jelas, celana dalam itu nampaknya sedikit lembab, dan segera ada bau aneh yang tercium olehku. Kudekatkan hidungku ke celana dalam itu untuk menghirup lebih bayak bau yang keluar dari celana dalam itu.
"Ngapain kamu disini!"
Dengan cepat aku membalikkan tubuhku. Jantungku seakan berhenti melihat Ibu Anna berdiri dihadapanku melotot padaku. Karena terkejutnya tanganku masih menggenggam celana dalam itu. Mulutku terbuka namun tidak dapat berkata apa-apa. Ibu Anna melihat tanganku, dia tampak kaget.
"Kamu anak kelas 2b?" tanyanya padaku dengan nada membentak.
"Iya Bu," jawabku dengan suara tercekat.
Ibu Anna lalu berjalan mendekatiku dan dengan cepat merebut celana dalam ditanganku, lalu mengambil tasnya dan memasukKan celana dalam itu ke dalam tasnya. Aku terdiam tertunduk, tak tahu apa yang harus aku perbuat.
"Kamu benar-benar kurang ajar," katanya padaku.
Aku terdiam tidak berani membantahnya.
"PPLAAKK!"
Sebuah tamparan keras mendarat dipipiku. Rasanya panas seperti terbakar.
"Maaf Bu," ujarku dengan pelan.
"Kamu bisa dikeluarkan dari sekolah ini kalau saya adukan masalah ini kepada kepala sekolah," ujarnya padaku.
Aku masih terdiam. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku perbuat.
"Ikut saya ke kantor," kata Ibu Anna padaku.
"Jangan Bu.. Saya minta maaf Bu," ujarku padanya.
Dia tidak menghiraukan perkataanku. Tangannya menarik tanganku.
"Jangan Bu, jangan laporkan saya.. Hukum saja saya Bu," kataku padanya.
"Dihukum? Kamu kira kamu cukup dihukum?" ujarnya dengan marah.
Aku terdiam, mataku sudah berkaca-kaca menahan air mata. Aku tidak ingin dilaporkan ke kepala sekolah. Pasti orang tuaku akan dipanggil kesekolah lalu diberitahu perbuatanku, terlebih lagi aku tidak ingin dikeluarkan dari sekolah.
"PPLLAAKK!!"
Kembali Ibu Anna menampar pipiku dengan keras. Kepalaku terasa berdenyut-denyut akibat tamparannya.
"JAWABB!!" teriak Ibu Anna di depan wajahku.
Tanpa bisa kutahan aku mulai menagis. Air mata mengalir deras dipipiku. Aku masih terdiam tertunduk sesaat, lalu.
"Tolong Bu jangan laporkan saya.. Saya mau dihukum apa saja Bu asal jangan laporkan saya," aku berkata sambil menagis terisak.
Kami terdiam sesaat.
"Kamu mau dihukum apa saja?" tanya Ibu Anna dengan pelan.
"I.. Iya Bu saya mau," ujarku dengan cepat melihat ada kesempatan.
Ibu Anna terdiam, seperti sedang berpikir.
"Besok jam 8 pagi datang ke sekolah, tunggu di depan pagar," ujarnya padaku.
"Baik Bu," jawabku tanpa berpikir panjang.
Ibu Anna segera berjalan keluar. Aku menarik nafas panjang, bersyukur tidak terjadi sesuatu yang kutakutkan. Aku terdiam sesaat dikelas mencoba menenangkan jantungku yang masih berdebar kencang. Sesudah itu aku beranjak pulang. Aku masih menyempatkan melihat parkiran. Tidak ada mobil Ibu Anna disana, berarti dia tidak melaporkan perbuatanku pada kepala sekolah. Dengan tenang aku melangkah pulang.
Aku terpaksa mengorbankan kegiatanku pada hari minggu pagi ini. Aku biasa bermain bola pada hari minggu pagi jam 8, namun tentu saja aku tidak akan melanggar janjiku pada Ibu Anna. Kurang sepuluh menit aku sudah menunggu dipagar sekolah. Aku mengenakan kemeja dan celana jeans berwarna biru tua. Semalaman aku susah tidur membayangkan apa kira-kira hukuman yang akan diberikan Ibu Anna padaku.
Aku berpikir mungkin aku akan dihukum menulis, atau menyalin buku catatan, atau yang lebih parah lagi aku dihukum membersihkan rumahnya. Aku masih bisa tersenyum membayangkan hal-hal itu. Aku merasa sudah sekitar 10 menit menunggu disitu. Dan benar saja tak lama kemudian aku melihat mobil katana perlahan berhenti di depanku. Aku tahu itu mobil Ibu Anna, namun aku tidak langsung menghampirinya. Lalu pintu mobil di bagian penumpang terbuka, seakan menyuruhku masuk, akupun menghampirinya. Aku melihat Ibu Anna duduk dikemudi.
"Naik," perintahnya.
Kami sama sekali tidak bicara apa-apa, sesekali aku mencuri lihat ke arah Ibu Anna. Dia tampak lain sekali hari ini pikirku. Ibu Anna mengenakan kaos berwarna kuning dan celana pendek berwarna coklat. Berbeda sekali dengan waktu biasa mengajar dimana dia mengenakan setelah jas dan rok formal.
"Nama kamu Indra?" tanya Ibu Anna dengan tiba-tiba.
"Iya Bu," jawabku.
Lalu kami kembali terdiam. Tak lama kemudian kami sampai di depan sebuah rumah. Dia menghentikan mobilnya lalu turun. Aku juga segera mengikutinya. Tanpa bicara Ibu Anna membuka pintu rumah itu lalu menyuruhku masuk. Dengan tidak berbicara aku masuk mengikutinya. Ibu Anna memberiku isyarat agar aku mengikutinya. Dia membawaku masuk kedapur.
"Cuci piring-piring itu, awas kalau sampai ada yang pecah," Ibu Anna berkata demikian sambil menunjuk ketumpukan piring kotor.
"Saya beri kamu waktu setengah jam, harus sudah selesai," ujarnya lagi.
"Baik Bu," jawabku.
"Oh ya.. Pakai ini," kata Bu Anna sambil melemparkan sebuah kain kepadaku.
Aku menangkapnya, tampaknya itu sebuah celemek. Tanpa bicara aku segera memakainya, sebenarnya aku enggan karena hal itu membuatku malu. Aku terlihat seperti pelayan, namun aku tidak berani berkata apapun, takut nanti Ibu Anna berubah pikiran. Hukuman ini tidak seberapa jika di bandingkan dikeluarkan dari sekolah pikirku. Ibu Anna lalu membantu mengikatkan tali dipunggunku. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh pada saat Ibu Anna tersenyum melihat aku mengenakan celemek itu. Dia lalu beranjak pergi meninggalkanku. Dan langsung saja aku memulai pekerjaanku.
Ibu Anna tampaknya keluar dari rumah, karena aku mendengar suara pintu yang dibuka, tapi nampaknya ia tidak menggunakan mobilnya. Aku segera menghentikan pikiranku dan mulai mengerjakan mencuci piring-piring kotor itu. Sebenarnya piring-piring itu tidak banyak, namun karena aku tidak pernah mencuci piring sebelumnya ditambah aku ingin Ibu Anna puas akan pekerjaanku makan membutuhkan waktu yang cukup lama juga untuk menyelesaikannya. Ketika tinggal satu piring lagi tersisa aku mendengar suara pintu dibuka, lalu aku juga mendengar pintu itu dikunci. Agak heran juga aku akan perbuatan Ibu Anna. Aku mendengar langkah sepatu, ketika aku menoleh aku melihat Ibu Anna. Tampaknya ia sehabis olah raga. Keringat mengalir deras ditubuhnya, tangannya mengipas-ngipas wajahnya.
"Tinggal satu Bu," kataku padanya.
"Bagus," jawabnya
"Kalau sudah selesai kamu bilang pada Ibu ya," katanya dengan lembut.
Mendengar perkataanya aku makin semangat menyelesaikan pekerjaanku. Bahkan aku sempat berpikir yang tidak-tidak melihat Ibu Anna yang tubuhnya penuh keringat itu. Tak lama akupun menyelesaikannya. Aku berjalan menuju Ibu Anna yang sedang duduk di sofa sambil menonton acara TV.
"Sudah Bu," kataku padanya.
"Benar sudah semua?" tanyanya memastikan.
"Iya Bu," jawabku.
"Bagus, sini ikut Ibu," katanya padaku sambil berdiri.
Aku berjalan mengikuti dibelakangnya. Dia membawaku kekamar, sepertinya itu adalah kamarnya karena itu merupakan kamar satu-satunya di rumah ini. Tampaknya Ibu Anna tinggal sendirian dirumah ini. Aku segera berpikir yang tidak-tidak ketika memasuki ruangan itu. Tanpa kusadari penisku mulai menegang karena fantasiku. Ruang kamar tidur itu luas sekali, didalamnya ada kamar mandi yang pintunya hanya berupa kain plastik yang bisa digeser seperti diruang untuk mencoba baju di mal-mal.
Ada satu hal yang menarik perhatianku, ruangan ini tidak seperti ruangan wanita yang pada umunya rapi. Ruangan ini berantakan. Ada baju kotor dimana-mana. Aku berpikir pastilah aku disuruh membersihkan ruangan ini.
"Besok saya akan melaporkan perbuatan kamu pada kepala sekolah," kata Ibu Anna padaku.
Aku terkejut mendengar perkataannya. Aku menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
Bersambung . . . . .
Subscribe to:
Posts (Atom)